Petik Melon di Kebun Hidroponik, Seru!

Daftar Isi

 

Petik melon di kebun hidroponik

"Bunda, kalau ke sana aku boleh petik melon sendiri, kan?"

"Iya, boleh. Nanti Kakak bisa petik satu-satu."

Mereka pun tak sabar untuk segera berangkat menuju Aufarm Hydroponic, tujuan wisata edukasi tipis-tipis kali ini.

Berawal dari informasi di salah satu grup di Facebook, ada yang menawarkan melon dari kebun hidroponik. Saya pun langsung kepo ke google map, mengira-ngira sejauh mana lokasinya dengan tempat tinggal.

Setelah itu, saya pun mengontak owner-nya untuk menanyakan kapan bisa datang ke kebun. Rupanya saat itu belum masa panen sehingga saya belum bisa datang. Sedangkan jadwal libur si Ayah belum seusai dengan jadwal panennya. Yaudahlah, lain kali aja sampai memungkinkan, batinku.

Kurang lebih 2 bulan setelah itu, tiba-tiba mendapat pesan WA dari Owner Aufarm Hydroponic. Beliau ngabarin kalau akan segera panen melon. Tentu, saya antusias untuk segera cek jadwal suami. Voila! Kali ini jadwalnya cocok. 

Mengetahui akan main ke kebun melon, anak-anak tak sabar untuk segera pergi. Dari rumah kami berboncengan sepeda motor, lalu menumpang bus dari halte terdekat. Dari halte bus pemberhentian terakhir di sekitar bandara Ngurah Rai, kami melanjutkan kembali perjalanan dengan sepeda motor. Rupanya, jalan menuju ke sana cukup jauh dan ada beberapa bagian yang terjal. Seru sih karena melewatinya sambil bercengkerama.

Awalnya, saya pikir lokasi kebun berada di perumahan, memanfaatkan halaman rumah/kebun belakang. Rupanya, berada di lahan villa mangkrak yang akses menuju ke sana hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua.

Dalam hati saya bersyukur, karena sebelumnya pernah mengagendakan ke sana dengan mobil rentalan, tetapi batal karena tidak sesuai jadwal panen.

Berada di perbukitan daerah Ungasan, tak jauh dari menara TVRI. Udara di sana masih segar meksipun tetap panas sebagaimana khas-nya Bali.

Sempat tersesat, akhirnya saya menghubungi owner dan dijemput oleh kakaknya, karena beliau sedang tidak berada di tempat. Kami pun dijemput untuk bersama-sama menuju kebun. Menuju ke sana, kami melewati perumahan yang cukup megah ala villa, lalu melewati jalanan kecil, jalanan terjal berbatu, jalan tanah, dan sampai di lokasi. Pemandangan dari sana cukup indah, apalagi di lokasi di mana ada beberapa sapi tengah bersantai di bawah pohon besar. Waktu lewat malah bayangin lokasi itu jadi tempat buat foto prewedding, hehehe.

Sampai di kebun, kami melepas lelah sembari berbincang dengan kakak pemilik kebun. Ada saung yang bisa kami gunakan untuk lesehan dan anak-anak bermain. Kami pun dijamu dengan melon hasil kebun yang renyah dan segar. MasyaAllah, menyantap melon langsung dari kebunnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

Setelah melepas penat sejenak, saya ajak anak-anak untuk memasuki green house di mana batang-batang tanaman melon terlihat menjulur di ajir yang terpancang. Melon-melon yang ranum menggantung di sekitar dedaunan.

"Wah, banyak banget melonnya!" 

"Aku mau petik itu, bolehkan, Bund?" Teriak anak-anak meskipun kepanasan.

Ya, hawa di dalam green house sangat panas, terlebih saat itu tengah hari.

Setelah memilih melon, anak-anak pun mencoba memetiknya dengan bantuan gunting. Tak lupa, kami mengabadikan momen itu dibantu oleh pemilik kebun.

Saat itu, ada 4 jenis melon yang bisa dipanen dengan harga mulai 38-43 ribu perkilogram. Harganya cukup mahal, ya. Tetapi memang sesuai dengan kualitasnya. Terlebih jika sudah sampai di supermarket, harga jualnya bisa mencapai 70-120 ribu rupiah per kilogram. Ukuran melonnya rata-rata sedang. Tapi jangan salah, beberapa terlihat kecil pun bobotnya lumayan berat. Harga satuannya mulai 60 ribuan (rata-rata bobotnya 1,5-2kg). Mumpung sampai sana, kami mencoba keempat jenis melon tersebut.

MasyaAllah, meskipun capek dan kepanasan sepanjang perjalanan, tapi terasa seru dan senang sekali. Anak-anak pun senang menyantap melon hasil dari kebun hidroponik.

Secara umum, tak jauh berbeda dengan melon yang ada di pasaran. Tapi karena ditanam secara hidroponik dan organik, rasanya lebih segar dan lebih manis. Oh ya, tergantung jenis melonnya juga, karena ada yang rasa manisnya kurang, ada yang lebih manis dibanding melon di pasaran.

Aktivitas seperti ini tentu sangat bermanfaat untuk anak-anak. Mereka belajar langsung ke tempatnya, meskipun tidak melihat dari awal proses pembuatan instalasi hidroponik dan proses penanamannya. Setidaknya mereka melihat sebagian bibit tanaman melon yang masih disemai di tanah, untuk ditanam secara hidroponik setelah masa panen selesai.

Setelah melewati perjalanan panjang untuk bisa memetik langsung melon hidroponik, saat menyantap potongan buahnya terasa jauh lebih nikmat. MasyaAllah.

Ayah Bunda tertarik untuk mengajak anak ke kebun dan petik melon? Bisa langsung mengontak Aufarm Hydroponic di Google Map, ya. Saya hanya berbagi pengalaman menarik.

Semoga bermanfaat,

Salam,

2 komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,
Comment Author Avatar
10 Mei, 2023 08:36 Hapus
Banyak juga jenis melon, perbedaannya pun terlihat jelas dari warna kulitnya. Menarik juga wisata ke kebun, rasanya lihat buah matang dan segar itu menyenangkan, apalagi bisa mengetahui jenis melon. Mantep, terima kasih informasinya!
Comment Author Avatar
12 Mei, 2023 00:57 Hapus
Iya Kak, mereka nanam jenis lain juga, bergantian.
Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner