Pahlawan Samudera, Langkah Kecil Lindungi Laut Indonesia

Daftar Isi
pahlawan samudera selamatkan dan lindungi laut Indonesia

Ayah/Bunda, ingat ketika ada paus terdampar di Wakatobi?  Di dalam saluran pencernaannya penuh dengan sampah laut. Jumlahnya disebut mencapai 5,9 kilogram. Berupa sampah gelas plastik seberat 750 gram (115 buah), plastik keras 140 gram (19 buah), botol plastik 150 gram (empat buah), dan kantong plastik 260 gram (25 buah). Ada pula serpihan kayu 740 gram (enam potong), sandal jepit 270 gram (dua buah), karung nilon 200 gram (1 potong), dan tali rafia 3.260 gram (lebih dari 1.000 potong).

Jumlah yang fantastis dan pasti menyakiti paus tersebut, bukan? 

Sedihnya, ini hanya secuil dari potret buram sampah yang ada di laut Indonesia. Melansir dari Kompas.com, sampah-sampah yang ada di laut itu 80% berasal dari darat, dari aktivitas manusia yang terbawa arus menuju laut. 

Di Bali, hampir pasti ketika musim gelombang tinggi, akan banyak sampah yang terbawa ombak lalu “menepi” di pantai, menumpuk seperti tumpukan sampah di tempat pembuangan sampah akhir (TPA). 

Salah satu target pemerintah adalah mengurangi kebocoran sampah plastik ke laut hingga 70 persen pada 2025 dan diharapkan mendekati angka nol pada 2040, melalui Rencana Aksi Nasional Sampah Laut 2018-2025.

Berbagai upaya harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini agar tidak semakin banyak sampah yang berada di lautan dan mengganggu ekosistem. Di antaranya yang bisa kita lakukan adalah reduce, reuse, recycle.

Pahlawan Samudera di Sekolah Dasar 

Sekolah si Kakak telah bekerjasama dengan World Plactic Bank dalam upaya mengurangi sampah yang ada di laut. Anak-anak diajarkan untuk mengurangi produksi sampah plastik, menggunakan tumbler dan membawa bekal saat sekolah, juga mengumpulkan berbagai jenis sampah plastik di sekolah untuk disetorkan ke WPB dan didaur ulang. 

Kegiatan ini telah berjalan sejak si Kakak masih kelas 1 SD. Waktu itu bahkan anak-anak mendapatkan imbalan tab untuk belajar secara online saat pandemi. Si Kakak adalah salah satu penerimanya karena dia rajin membawa sampah plastik ke sekolah. Sampah-sampah itu kadang ia pungut di jalan sekitar rumah, atau dikumpulkan oleh Bunda dari acara-acara di luar atau ketika membeli makanan di luar. Program itu masih berlanjut sampai sekarang.

Saat pergantian semester yang lalu, setelah anak-anak selesai mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS), di sela waktu pembagian raport, setiap hari anak-anak tetap masuk sekolah dan mendapat pembelajaran “Pahlawan Samudera”. 

Anak-anak diberi pengertian tentang kondisi sampah di lautan, sampah plastik yang menumpuk di mana-mana, mengetahui cara memilah sampah, memahami jenis sampah yang bisa didaur ulang dan tidak, serta membangun kesadaran mereka untuk mengurangi sampah. 

Saat itu ada pihak WPB yang juga datang ke kelasnya. Pulang sekolah ia heboh, “Ada bule tadi di kelasku! Kami belajar tentang sampah,” katanya antusias. 

Tak hanya itu, anak-anak juga belajar tentang ekosistem laut dan berbagai hal yang ada di laut. Mereka belajar dengan gembira sambil menggambar, mewarnai, bernyanyi, dll.

Pelan-pelan, anak-anak belajar untuk sadar dengan kondisi lingkungannya. Meskipun saat ini masih selangkah demi selangkah, mulai dari hal kecil seperti membuang sampah dan mengurangi sampah plastik, semoga membawa dampak besar untuk Indonesia. Semangat, para pahlawan Samudera!

Semoga bermanfaat, 

Salam, 

Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner