Mengajarkan Kejujuran pada Anak saat Sekolah Daring

Daftar Isi
Belajar kejujuran dan kemandirian saat PJJ

“PJJ itu, yang sekolah emaknya, yang nngerjain tugas emaknya. Nanti yang dapat raport emaknya juga dong?!”

“Sekolah daring bikin Emak darting.”

Pernah mendengar seloroh di atas? Ya, itulah berbagau ujian yang kita hadapi saat ini, sekolah daring yang sebenarnya bisa kita jadikan sebagai momen untuk mengajarkan pendidikan kejujuran kepada anak-anak kita. 

Sekolah daring, online, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau apapun istilahnya, menyisakan banyak masalah baik bagi siswa, orang tua, maupun lembaga pendidikan terkait. Semua pihak terdampak pandemi. Meskipun telah melewati hampir 2 tahun masa ini, kita (atau mungkin hanya saya saja) belum menemukan formula yang tepat untuk melewati masa sekolah online. 

Bersyukur, sebagian sekolah mulai melakukan PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) sebagai solusi dari PJJ. Memang belum 100% karena sekolah juga punya tanggung jawab untuk membuat skenario terbaik PTM agar tetap sesuai protokol kesehatan (prokes) sehingga menjamin keamanan anak didik dan seuluruh warga sekolah. 

Sebenarnya, banyak hikmah yang bisa kita ambil dari momen PJJ ini. salah satunya adalah kita memiliki sarana untuk mengajarkan kejujuran kepada anak. orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk nilai akademis. Terkadang, banyak orang yang rela melakukan berbagai hal untuk mendapatkannya. Terlebih kondisi seperti saat ini, peluang untuk melakukan ketidakjujuran sangat besar. 

Saya pernah mengalami masa galau ketika anak kurang memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru di sekolah. Tanpa sadar membandingkan dengan diri sendiri yang dulu sering mendapatkan peringkat 1 sejak SD – SMA. Keinginan agar anak berprestasi di bidang akademik cukup kuat di dalam hati. awalnya ada rasa kecewa ketika anak belum bisa memenuhi hal itu. Untunglah, kami paham bahwa kecerdasan dan prestasi  anak tidak hanya di bidang akademis saja. kami pun lebih santai menghadapi sembari mengamati kelebihan-kelebihan dan kekurangan yang dimiliki anak-anak.

Bagaimana Cara Mengajarkan Kejujuran Kepada Anak saat PJJ

Berikan Kepercayaan Kepada Anak 

“Anak-anak, kerjakan soalnya sendiri, ya! jangan mama/papanya yang mengerjakan. Karena yang sekolah adalah anak-anak. Nilai berapa pun yang anak-anak dapatkan, jika itu nilai dari hasil belajar dan mengerjakan tugas sendiri, pasti lebih berharga,” kurang lebih seperti ini yang disampaikan oleh salah satu guru mata pelajaran saat pertemuan via zoom.

Saya yang saat itu mendampingi si Kakak menyimak sambil tersenyum simpul. Setelah pelajaran berakhir, saya kembali menekankan kepadanya untuk melakukan saran Bu guru.

Perlahan, saya pun mulai melepaskannya untuk belajar mandiri meskipun belum sepenuhnya bisa. Maklum, masih kelas 2 SD, baru bisa lancar membaca tetapi belum mampu memahami semua yang dibaca. Untuk memahami soal pun terkadang masih kebingungan. 

Dampingi Anak, Tetapi Arahkan Bukan Mendikte 

Untuk belajar sehari-hari, tentu kami masih mendampinginya, karena tidak mungkin melepaskan begitu saja anak kelas 2 SD. terlebih gurunya pun setiap hari memberikan tugas via WA, dengan tugas mencatat rangkuman pelajaran dan mengerjakan latihan. Iya, PJJ memang semembosankan itu. Tak hanya membosankan bagi anak, tapi juga bagi orang tua yang mendampingi karena setiap hari bertemu dengan rutinitas yang sama. 

Saat mendampingi, terutama mengerjakan soal, saya lebih banyak membiarkannya atau mengarahkannya untuk menemukan jawaban dari buku pelajaran. Maklum, dia belum terbiasa karena sebelumnya selalu diarahkan termasuk untuk menemukan jawaban soal-soal latihan. 

Dengan tetap mendampingi tanpa mendikte, anak-anak juga akan belajar pentingnya bersikap jujur di sekolah. 

Momen Penilaian Tengah Semester (PTS) sebagai Pendidikan Kejujuran

Sebelumnya di kelas 1, untuk mengerjakan soal latihan dan ujian saya masih membacakan soal dan pilihan jawabannya, dia akan memilih jawaban mana yang menurutnya benar. Namun di kelas 2 ini, untuk soal Ulangan harian dan Penilaian Tengah Semester (PTS), saya mulai membiarkannya mengerjakan sendiri tanpa bantuan sama sekali. awalnya cukup membuat saya syok ketika dia mendapatkan nilai 50 untuk soal ulangan Bahasa Arab. Fyuuh! Rasanya sungguh tak karuan. 

Saya pun mencoba menata hati dan afirmasi diri sendiri bahwa ini adalah cara untuk melatih kejujuran dan kemandiriannya, agar tidak mengandalkan pendamping/orang tua. Terlebih sebentar lagi ada kemungkinan PTMT akan dilaksanakan. Bagaimana jika tidak disiapkan untuk belajar mandiri dan jujur? 

Akhirnya saya tetap bertahan membiarkannya mengerjakan soal sendiri tanpa bantuan dari saya atau ayahnya. Hanya sesekali ketika dia tidak memahami kata/istilah yang tertera dalam soal, maka saya akan membantunya. Nilainya tentu seperti yang dibayangkan, mulai dari 50 – 90 :D 

Memang mengajarkan kejujuran bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika dihadapkan dengan obsesi diri sendiri agar anak berprestasi di bidang akademis. Semoga perlahan bisa terus meningkat dan menjadi lebih baik. Aamiin.

Semoga bermanfaat,

Salam, 

2 komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,
Comment Author Avatar
30 September, 2021 10:48 Hapus
Nah, yang dapat tugas anaknya eh yang ikut pusing emaknya. Diajarin biar bisa itu malah ngabisin waktu berjam-jamm dan tugasnya juga gak kunjung dikerjain astaga. Ini memang perlu diterapkan pada anak saat daring.
Comment Author Avatar
20 November, 2021 13:11 Hapus
Begitulah, Mbak. Daring memang penuh drama :D
Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner