Tips Meningkatkan Motivasi Belajar Anak di Masa Pandemi

Daftar Isi
tips meningkatkan motivasi belajar anak saat PJJ

Motivasi Belajar Anak Menurun sejak PJJ

“Bund, besok aku mulai sekolah?” tanya si Kakak menjelang tidur kemarin, setelah sebelumnya kuberitahu bahwa besok sudah mulai masuk sekolah, waktu libur telah habis. 

“Iya, besok bangun pagi, ya.”

Ia pun mengangguk sebelum akhirnya membaca doa tidur lalu terlelap.

Pagi harinya, berkali-kali dibangunkan, dia tetap hanya berpindah posisi, tidak menghiraukan panggilan dan ucapan saya bahwa hari ini hari pertama sekolah. Saya pun menyerah setelah 3-4 kali berusaha membangunkan, namun tak juga beranjak. Fyuuuh! Salah sendiri emaknya kemarin-kemarin membiarkan anak-anak bangun siang. Mm... sebenarnya karena sepekan ini mereka berdua flu, jadi memang dibebaskan tidur sampai agak siang.

Setelah bangun dan mandi pun masih harus dikondisikan untuk memakai seragam dan bersiap memulai sekolah. Untunglah sekolah si Kakak belum mulai mengagendakan pertemuan via zoom, sehingga jadwalnya masih lebih fleksibel. Hanya ada perkenalan, mengisi daftar kehadiran, dan laporan ini-itu di WAG paguyuban kelas.

Supaya terasa suasana sekolah, saya berikan tugas menggambar dan mewarnai, sebagai pemanasan. Sementara itu, bundanya ini bisa berjemur di teras sambil mengawasi. 

Ayah/Bunda mungkin mengalami hal yang sama? Anak-anak yang masih membutuhkan dorongan dan pantauan dalam belajar mengalami kejenuhan dan motivasi belajarnya menjadi sangat berkurang. Belum lagi kondisi eksternal seperti terdengar suara teman-temannya yang bermain di sekitar rumah, yang memang mereka belum usia sekolah. 

Sabtu 10 Juli 2021, Faber-Castell mengadakan webinar bertema "Menstimulasi Motivasi Belajar Anak di Era New Normal”. Yohana Theresia, M.Psi., Psikolog dari Yayasan Heart of People hadir sebagai narasumber bersama pendidik dan ayah/bunda dari seluruh Indonesia. 

Yohana mengungkapkan bahwa metode daring tentunya menjadi tantangan sendiri bagi kita semua yang terlibat di pendidikan dan parenting

“Banyak kasus yang ditemui di lapangan menunjukan adanya indikasi penurunan motivasi dalam belajar anak. Hal itu tidak lepas dari banyak faktor di antaranya ketebatasan penguasaan gawai di sisi bapak/ibu pengajar, materi pembelajaran yang kurang variatif dan menarik, kurangnya kontrol penggunaan gawai di anak hingga intervensi yang salah dari orang tua,” lanjut Yohana.

“Sehingga tentunya, jika motivasi belajar turun sangat berpengaruh ke banyak aspek lainnya, yakni level pemahaman, kreativitas, produktivitas dan tentunya hasil pencapaian pembelajaran itu sendiri,” tambahnya. 
peserta webinar

8 Strategi Membangun Motivasi Belajar Anak 

Lalu, bagaimana caranya supaya anak bisa termotivasi belajarnya?

Yohana mengungkapkan bahwa motivasi tersebut bisa dibedakan menjadi 2 yaitu intrinsik dan esktrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam dirinya sendiri yang tidak terpengaruh orang faktor luar. Sedangkan motivasi ekstrinsik berupa dorongan dari luar misalnya reward dari orang tua sehingga anak bersemangat untuk belajar. 

faktor motivasi belajar anak


“Orang tua harus ikut terlibat, orang tua juga diminta untuk sering mendengar, orang tua dapat membantu anak untuk memutuskan dan memahami dengan segala bentuk konsekuensi yang ada. Orang tua juga harus belajar memahami kondisisi anak, hal ini kadang yang jarang ada, karena orang tua kurang paham/sensitif dengan apa yang terjadi, terutama saat anak bosan belajar,” papar Yohana. 

8 strategi membangun motivasi
8 strategi membangun motivasi belajar anak


Berikan Reward Kepada Anak 

Yohana juga menambahkan orang tua dapat memberikan pengharaan/reward bagi anak jika anak mencapai sesuatu yang telah disepakati sebelumnya, misalkan prestasi baik maupun hal-hal lainnya. Adapun reward-nya tidak perlu hal-hal yang muluk-muluk. Berikan apresiasi sederhana semacam pelukan, senyuman, tepuk tangan, benda-benda yang disukai anak, dll. Jika orang tua ingin memberikan reward berupa barang, pastikan barang tersebut adalah barang yang berguna untuk anak, bukan karena keinginan semata. 

“Dan pada akhirnya, semua elemen sangat berperan untuk mensukseskan pola belajar dan parenting di era saatini. Orang tua, sekolah, pemerintah dan juga siswa,” tutup Yohana.

Penghargaan Berupa Perlengkapan Sekolah yang Bermanfaat

Saya termasuk orang tua yang senang memberikan penghargaan dengan barang-barang kecil yang dibutuhkan anak untuk sekolah dan mengasah kerativitasnya. Misalnya alat mewarnai, stiker, buku, tas, dll. 

Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Lilyana Ang menambahkan bahwa bentuk penghargaan berupa pemenuhan kebutuhan & alat belajar bisa menjadi pilihan tersendiri bagi orang tua dalam memotivasi anak agar kembali bersemangat dalam belajar meski di rumah saja. salah satunya adalah tas. 

Rupanya, tas belajar/ sekolah juga harus disesuaikan dengan isu perkembangan si anak, dari fase Separation Anxiety yang kerap muncul di usia PAUD & TK, lalu fase kemandirian dan produktivitas di usia Sekolah Dasar, hingga pencarian identitas pada usia remaja dan dewasa.

“Tas Faber-Castell telah dibuat berdasarkan hasi lriset yang melatari fase-fase dalam perkembangan seseoran ganak, serta dengan memasukan saran dari ahli kesehatan tulang, guna memastikan kesehatan penggunanya. Selain itu, Tas Faber-Castell juga sangat ramah lingkungan karena bebas PVC yang dapat menyebabkan karsinogenik (pemicu kanker),” ungkap Lily. 

Bagaimana, Ayah/Bunda? Tidak bingung lagi kan, bagaimana mengatasi dan menstimulasi anak supaya termotivasi kembali untuk belajar? Semoga sekolah daring di tahun ajaran ini bisa lebih optimal dibanding tahun kemarin. Aamiin. 

Semoga bermanfaat, 

Salam 

Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner