Haruskah Sedini Mungkin Mengajarkan Anak Berpuasa?

Daftar Isi
bagaimana mengajarkan anak berpuasa

Assalamu’alaikum, Ayah/Bunda. 

Baru-baru ini ramai dibahas di kalangan ibu-ibu, tentang seorang ibu yang membiarkan dan bahkan memaksa anak balitanya berpuasa hingga penuh. Meski tidak tahu sumber aslinya dari mana asalnya, tetap membuat geram kaum ibu. 

Saya sendiri tidak setuju dengan konsep tersebut. Dari sisi agama, anak usia balita belum dikenakan kewajiban untuk menjalankan ibadah. Memang, orang tua berhak mengajarkan agama sedini mungkin. Dalam hemat saya, hal ini berkaitan dengan aqidah, bukan dalam pembebanan ibadah. Contohnya salat, sebagai hal utama dan tiang agama islam pun orang tua tidak boleh memaksakannya. Sesuai anjuran, anak mulai diperintahkan untuk rajin shalat sejak usia 7 tahun. Tentunya, sebelum usia itu fondasi-fondasinya telah ditanam dengan kokoh. 

Dari Amr Bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: "Rasulullah SAW bersabda: "Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya."

Alasan kenapa usia 7 tahun adalah karena di usia ini umumnya anak sudah mulai tumbuh daya pikirnya, kritis, cerdas, dan sudah mulai bisa membaca/menghafal surat-surat pendek sebagai bacaan shalat. Di posisi ini, lebih memungkinkan untuk mengajarkan syarat/rukun shalat dan hal-hal lain yang berkaitan.

Bagaimana dengan Puasa Anak? 

Saya belum menemukan literatur yang sesuai, namun jika disamakan dengan perintah salat, artinya diajarkan bisa sedini mungkin, melalui tahapan-tahapan yang sesuai. Misalnya sejak kecil dikenalkan tentang puasa, suasana puasa, shalat tarawih, makan sahur, berbuka, dll. Usia anak semakin besar mulai diajarkan untuk ikut berpuasa tanpa dipaksa harus penuh atau selama waktu tertentu. 

Saat si Kakak masih di bangku TK, saya merasa waswas, khawatir, dan segala macam berkecamuk saat teman-teman si Kakak sudah mulai berpuasa penuh sedangkan si Kakak hanya bertahan sampai jam 9 pagi. Itupun dengan kondisi dia tidur lagi setelah subuh. Tak ingin membandingkan anak dengan anak orang lain, tapi nyatanya hati kecil merasa tak enak. 

Saya hanya bisa berdoa dan berusaha terus memahamkan kepada anak tentang puasa. Mengajaknya makan sahur, menyiapkan menu buka puasa, dll. 

Ramadhan tahun ini, usia si Kakak sudah 7 tahun lebih 2 bulan. Saya kembali menjelaskan tentang puasa jauh-jauh hari sebelum ramadhan tiba. Menjelang puasa, saya ajak anak-anak bersibuk ria menyambut bulan suci ini. Dia pun antusias dan mengatakan besok akan berpuasa sampai penuh. 

MasyaAllah...terharu rasanya saat akhirnya ia bisa berpuasa sampai penuh untuk pertama kalinya. Apakah berlalu mulus tanpa drama? Oh, tentu tidak! dia pun merengek-rengek untuk segera berbuka puasa. Namun kami berusaha menyemangatinya dan memberi pengertian untuk tetap melanjutkan puasa. 

Meski sudah berhasil puasa sehari penuh, tapi dia belum mampu untuk berpuasa selama sebulan penuh. Ada saja alasannya untuk tidak puasa yang membuat orang tuanya ini tak berkutik. Setidaknya ini sudah menjadi pencapaiannya di tahap yang lebih tinggi. Biarlah teman sebayanya sudah lulus bab puasa, kami hanya bisa  mendoakan dan mendampinginya. 

Semoga tahun depan selalu lebih baik dari tahun sekarang. Aamiin. 

Tips Mengajarkan Anak Berpuasa 

Apa saja yang saya siapkan untuk mengajarkan si Kakak berpuasa? Simak pengalaman saya, ya Ayah/Bunda.

Berikan pengertian tentang puasa sedini mungkin

Memberikan pemahaman seputar puasa, tak masalah dilakukan sedini mungkin. Rata-rata anak-anak mulai memahami kurang lebih di usia 5 tahun. Tetap ajarkan meskipun mereka mungkin akan lupa atau tidak fokus memperhatikan. 

Ajak anak untuk bergembira menyambut bulan suci Ramadhan 

Setiap tahun menjelang datangnya bulan suci ramadhan, ajaklah anak untuk bersuka cita menyambutnya. Kita bisa melakukan kegiatan seperti bersih-bersih rumah, membuat hiasan ramadhan, menyiapkan jurnal, dll. 

Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ramadhan

Jika ada kegiatan ramadhan di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal, pastikan anak-anak untuk terlibat. Jika tidak ada, orang tua bisa menyiapkannya di rumah. 

Berikan aktivitas supaya tidak jenuh dan melupakan rasa lapar dan haus

Biasanya, sekolah terutama sekolah islam diliburkan saat ramadhan, meski kebijakan ini tidak berlaku di semua sekolah. Jika demikian, sebaiknya siapkan aktivitas ringan di rumah agar anak-anak tidak jenuh. Jika anak-anak nyaman dan tidak bosan, rasa bahagia membuat mereka sejenak melupakan rasa haus dan lapar. 

Saya dan teman-teman di kampung dulu biasa bermain ke sawah atau ke kali di sore hari agar saat kembali main, waktu maghrib menjelang. Rasanya senang meskipun kaki capek berjalan. 

Atur jadwal anak 

Perubahan aktivitas di bulan puasa membuat kita lebih disiplin mengatur waktu. Untuk itu, anak-anak pun harus diatur agar lebih disiplin. 

Yeah, pada penerapannya memang tak semudah itu. Saya pun mengalami sendiri. terkadang anak jenuh, bosan, ingin aktivitas yang tidak monoton, dll. Tak apa tak ideal, yang penting semuanya terlaksana dengan baik. 

Buat Jurnal Ramadhan Anak 

Saya yang tidak terampil membuat jurnal, tahun ini mempercayakan jurnal puasa anak pada buku “My Sweet Ramadhan”. Isinya beberapa aktivitas ibadah ramadhan yang bisa dikerjakan anak dan “dilaporkan” anak setiap harinya. 

Meski tidak 100% membuat anak-anak rajin, tetapi menyusun jurnal ini membuatnya riang dan mengerti ibadah apa saja yang utama dilakukan di bulan ramadhan selain berpuasa. Halaman yang warna-warni dengan ilustrasi ceria membuat anak betah berlama-lama dengan buku itu. 

Bacakan Kisah Seputar Ramadhan

Membaca kisah/dongeng, pasti sangat disukai anak-anak. biasanya anak-anak pun lebih mudah dipahamkan dengan cerita. Inilah saatnya memberikan pengertian dan menyemangati anak dengan mengambil pejalaran dari kisah-kisah seputar Ramadhan. 

Jadi, membebani anak dengan ibadah puasa sedini mungkin sebaiknya tidak dilakukan. Berikan tahapan-tahapan yang sesuai agar anak bisa menjalankannya tanpa beban apalagi dendam ke orang tua. 

Well, ini hanyalah pendapat saya pribadi, seorang hamba yang kurang ilmu. Mohon dimaafkan dan.dikoreksi jika ada hal yang kurang tepat. Terima kasih.

Semoga bermanfaat,

Salam,

1 komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,
Comment Author Avatar
Anonim
13 Agustus, 2021 14:38 Hapus
Sesuai kemampuan anak aja, ya Bund..
Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner