Membangun Surga dalam Keluarga

cara mengadirkan nuansa sutra dalam rumah
ilustrasi

Apakah nuansa surga harus dihadirkan dalam keluarga? Ya! Karena rupanya, inilah salah satu sikap hidup visioner seorang muslim.

Ustadz Bendri Jaisyurahman, menjelaskan hal ini dalam sebuah kajian online keluarga di bulan Ramadhan 1442 H. Bersama Ustadzah DR. Kurniasih Mufidayati sebagai narasumber, menjelaskan urgensi kita menjadikan rumah sebagai surga. Baitii jannatii.

Upaya Menghadirkan Surga dalam Keluarga

Menurut beliau, tidak sulit untuk melakukan hal ini. Hanya membutuhkan aksi dan konsisten.

Ada beberapa cara, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an dan juga dicontohkan oleh Rasulullah.

1. Membiasakan salam dengan benar, dan tidak buru-buru

"Ucapkanlah 'Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh', Jangan 'samlekom' apalagi 'assamu'alaikum' karena maknanya sudah sangat jauh berbeda," ujar Ustadz Bendri.

Saya pun teringat kisah Rasulullah dan Sahabat, ketika sahabat bertanya bagaimana menanggapi orang Yahudi yang mengucapkan "assamu'alaikum", Rasulullah menjawab, balaslah cukup dengan "wa'alaikum", kembali kepada yang mendoakan. 

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka mencontoh apa yang dilihat dan didengar. Jika orang tuanya membiasakan hal yang baik, niscaya anak-anak pun akan mengikuti.

Sekarang ini banyak anak muda atau mungkin juga orang tua yang asal saja mengucapkan salam. "Samlekom," "lekom," atau mempelesetkan kata-kata lainnya. Secara umu dari segi bahasa memang sah-sah saja, tetapi jika berkaitan dengan hal-hal sensitif seperti dalam agama sebaiknya berhati-hati karena bisa berbeda makna. 

2. Tidak ada kekerasan, baik fisik maupun verbal

Q.S An-Nisa (mohon maaf ayat berapa terlewat, dan googling belum nemu juga). 

Gambaran surga di dalam surat ini adalah tidak ada penganiayaan. Penganiayaan yang dimaksud adalah berupa kekerasan fisik maupun verbal.

Seringkali, kekerasan terhadap anak terjadi oleh orang terdekatnya, terutama kekerasan verbal. Orang tua kerap merasa berhak untuk melakukan kekerasan dengan dalih merekalah yang membiayai hidupnya. 

Semoga kita termasuk sebagai orang tua yang tidak lupa, bahwa meskipun anak-anak adalah tanggung jawab kita, bukan berarti kita berhak berlaku semena-mena. Anak adalah titipan dari Allah, yang juga berhak mendapatkan kasing sayang dari orang tuanya.

3. Tidak Ada Perasaan Negatif, Tidak Memiliki Perasaan Dendam

Komunikasi yang keruh akan membuat keganjalan hati yang bisa terus bertumpuk. Untuk itu, masing-masing harus berusaha membangun komunikasi yang baik, saling memahami, pengertian, agar tidak ada perasaan negatif dan dendam.

Umumnya, perasaan kecewa, dendam, sakit hati, dan berbagi perasaan negatif lainnya akan menumpuk jika tidak teratasi. Bahayanya, jika suatu saat meledak seperti bom waktu.

4. Duduk berhadap-hadapan dan Ngobrol dari Hati ke Hati

"Faaqbala ba'dhuhum 'ala ba'dh," Ustadz Bendri menukil salha satu ayat Al-Qur'an. 

Rupanya, Rasulullah juga melakukan hal yang sama dengan istri-istrinya. Beliau seringkali mengajak ngobrol istri beliau sambil duduk berhadap-hadapan, dan berbicara dari hati ke hati.

Saya membayangkan aktivitas yang romantis, berdua membicarakan hal yang ringan hingga berat seperti urusan umat. Ya, semacam pillow talk yang dilakukan dengan lebih intens dan menghadirkan mindfullness.

Ustadzah Kurniasih Mufidayati, yang juga merupakan anggota DPR RI, menyampaikan bagaimana beliau mengatur agar meskipun menjadi ibu bekerja, tapi kewajiban mendidik anak tidak terlewatkan.

Mendidik anak, sejatinya tidak hanya tentang anak kita sendiri, melainkan juga para pengasuhnya, orang-orang yang menemaninya di dalam rumah, hingga teman-teman mainnya di lingkungan sekitar.

Menjadi orang tua memang bukan pekerjaan yang mudah. Membutuhkan kesabaran ekstra, juga ilmu yang terus-menerus harus dipupuk. 

Semoga kita semua bisa menjadi orang tua shalih untuk anak-anak shalih nan mushlih, dan tercipta suasana surga dalam rumah kita. Aamiin.

Catatan: Resume ini berasarkan kajian online dengan ditambah opini pribadi. Kebenaran adalah milik Allah semata, mohon dikoreksi jika ada kesalahan. Terima kasih

Semoga bermanfaat,

Salam,

Tidak ada komentar untuk " Membangun Surga dalam Keluarga"