Menyiapkan Kembali Sekolah Daring 2021

Daftar Isi

tips mengjadapi kembali sekolah daring di masa pandemi

Akhir tahun 2020 menandai berakhirnya semester ganjil sekolah. Anak-anak (dan terutama orang tua) penuh suka cita menyelesaikan perjuangan selama 6 bulan pendidikan di tengah pandemi covid-19.

Harapan untuk memulai pembelajaran tatap muka membuat hari-hari terasa lebih ringan. Ya! Kita akan lebih baik, tahun depan. Namun harapan itu kembali pupus. Virus corona yang telah 9 bulan membuat keluarga Indonesia terkungkung rupanya belum juga bosan berada di sini.

Grafik kasus positif covid-19 semakin meningkat. Semakin sering mendengar kabar kematian tak kenal usia. Kabar seseorang terkonfirmasi positif covid semakin Semakin ciut pula nyali untuk menghadapi tahun yang ada si hadapan.

Dua pekan yang lalu saya sudah menandatangani kesanggupan untuk pelaksanaan pembelajaran tatap muka meski masih berada di tengah pandemi. Keputusan itu dipilih karena berbagai pertimbangan, baik sekolah, kondisi anak, serta suami dan saya sendiri kami sebagai orang tua.

Ternyata, peringatan kasus covid varian baru kembali terdengar. Bali kembali me-nonaktifkan jalur penerbangan internasional. Sekolah dan lembaga-lembaga lain yang mulai menyiapkan untuk aktif terpaksa kembali mencabut keputusan sebelumnya.

Apakah Ayah/Bunda juga merasakan hal yang sama? Hanya bisa menangis di dalam hati menanggapi semua ini.

Evaluasi Sekolah Daring 2020

1. Sudah Berhasil Memenuhi Target

Harapan kami tak muluk-muluk ketika si Kakak memasuki jenjang pendidikan SD. Dulunya, saya termasuk ibu yang berharap anaknya mengikuti jejak dengan berprestasi akademik. Seiring waktu saya bisa menerima bahwa setiap anak dilahirkan istimewa sepaket dengan kelebihan dan kekurangan. Sejak saat itu saya tidak menargetkan ini-itu yang terlalu tinggi.

Saya memang mulai khawatir ketika akan memasuki bangku SD dan si Kakak belum bisa membaca dengan lancar. Huruf-huruf yang terangkai dalam kata masih membingungkan baginya. Beruntung, suami dan guru di sekolah selalu memberikan motivasi dan menyampaikan bahwa tak sedikit yang mengalami hal serupa. Umumnya, hanya butuh beberapa bulan bagi anak-anak seperti itu untuk menguasai calistung (baca, tulis, hitung).

Alhadulillah, meski di awal sering membuat ayah dan bunda-nya senewen, sekarang sudah jauh lebih baik. Hanya saja masih kesulitan membaca kata-kata panjang dan kata-kata dengan huruf konsonan yang bersebelahan.

Bisa jadi si Kakak saat ini otak kirinya masih lebih dominan. Terbukti dengan cepatnya menguasai pelajaran berhitung dibanding membaca dan menulis. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri juga, bukan?

2. Kurang Kreatif

Selama semester ganjil kemarin, kita semua memang masih gagap menghadapi pendidikan jarak jauh. Sekolah, orang tua, dan anak sama-sama masih tertatih beradaptasi dengan perubahan yang serba mendadak. Ya, pembelajaran yang kami hadapi sangat tidak keratif. Saya sendiri pun belum menemukan cara sendiri agar tugas dari sekolah tersampaikan tapi tak membosankan.

Jujur, tugas yang disampaikan dari sekolah melalui WhatsApp terlalu kaku dan itu-itu saja. Akhirnya kami ‘lari’ ke youtube mencari video pembelajaran yang sesuai.

3. Kurang Disiplin

Awal memulai sekolah daring, saya selalu siap pagi hari layaknya sekolah luring. Lama – kelamaan saya menyerah dengan keadaan, terlebih pagi hari banyak sekali ‘gangguan’ berupa anak-anak yang bermain di luar rumah. Hal ini selalu membuat si Kakak tidak konsentrasi belajar, ingin bergabung dengan teman-temannya.

Akhirnya, setelah tarik ulur sekian lama, pagi hari saya izinkan si Kakak bermain. Tugas-tugas dari sekolah dikerjaan setelah itu. Sayangnya, jadi kebiasaan buruk bahkan beberapa kali terlambat mengumpulkan tugas. Fyyuuuh!

4. Anak Moody, Ortu Kurang Sabar

Sejak mulai PJJ, tiap pagi saya mendengar gebrakan meja dan teriakan orang tua yang menemani anak belajar, termasuk saya sendiri. Selain belum sepenuhnya bisa menerima keadaan, sungguh menambah beban pikiran. Terlebih si Kakak moody sekali untuk belajar. Segala macam input teori parenting di otak sama sekali tidak muncul saat kondisi begini. Astaghfirullah...

5. Guru kurang Kooperatif  

Terkait dengan guru, seharusnya ini menjadi evaluasi untuk saya ke sekolah, ya. Namun tak apa-apa saya sampaikan di sini, toh saya juga tidak pernah menyebutkan di mana tepatnya anak saya masuk SD. Jadi saya sampaikan secara umum saja bahwa beberapa guru hanya memberikan tugas berupa foto dan secuil kalimat pengantar. Ortu saja bosan, apalagi anak-anak? hiks. 

Strategi Menghadapi Pembelajaran Jarak Jauh 2021

Setelah mengalami ‘jungkir-balik’ PJJ di semester pertama si Kakak mengenyam bangku SD, saya mencoba untuk menyusun strategi bagaimana menghadapi kembali sekolah daring di tengah pandemi yang entah kapan akan berakhir. Berikut cara saya:

1. Persiapan Mental, Lebih Sabar Hadapi Anak

Bagi saya, ini hal yang paling mendasar. Beberapa bulan kemarin masih setengah hati menjalani peran sebagai guru sekolah, maka tahun depan tak boleh mengalami kejadian yang sama. Saya akan berusaha untuk legowo dengan keadaan dan bersiap untuk melapangkan dada menjalani rutinitas sekolah.

2. Menyiapkan Alternatif Kegiatan Penunjang Sekolah

Sebelumnya, si Kakak lebih senang bermain dengan teman-temannya setelah tugas sekolah usai. Selanjutnya, sebisa mungkin saya harus mengurangi kegiatannya di luar mengingat kasus semakin meningkat. Untuk itu, saya dan suami akan menyiapkan kegiatan-kegiatan menarik yang bisa dilakukan oleh si Kakak dan adiknya sekaligus.

3. Memanfaatkan Gawai dan Eksplor Media Lain

Kemarin saya hanya memanfaatkan youtube untuk menambah referensi materi sekolah SD. Padahal banyak aplikasi dan situs yang bisa menjadi rujukan untuk pembelajaran jarak jauh. Tentunya, semakin banyak media yang digunakan, anak-anak akan menjadi lebih betah, tidak cepat bosan.

4. Disiplin Waktu

Bismillah, kami paham pentingnya menghargai waktu. Namun seringkali kejenuhan membuat pagi-pagi mager dan berujung jadwal yang berantakan. Khususnya untuk sekolah daring semoga kami bisa lebih disiplin. Aamiin.

5. Komunikasi yang Baik dengan Guru

Sejujurnya, komunikasi kami selama 1 semester kemarin masih sangat kaku. Semoga belum terlambat untuk memperbaiki hal ini. aamiin.

Well, tak akan mudah untuk kembali menjalani sekolah daring di saat pandemi dikabarkan akan kembali memuncak. Seperti buah simalakama bagi semuanya. Jika memaksa sekolah luring, anak-anak akan sangat rentan terpapar virus. Sementara jika berlanjut daring, semuanya juga mengalami kesulitan dan beban mental.

Semoga kita terus belajar dari pengalaman dan bisa menemukan formula yang tepat untuk mengakomodir semuanya. Aamiin.

Semoga bermanfaat,

Salam,


Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner