5 Inspirasi Pengasuhan di Drakor 'Sky Castle'

inspirasi pengasuhan atau parenting dalam drakor sky castle
credit: freepik..com

Berburu Ilmu Parenting dari Drakor 

Nonton drakor (drama Korea) menjadi hiburan mengasyikkan terutama sejak pandemi melanda Indonesia. Banyak ibu yang jenuh dengan rutinitas harian  di rumah saja, melampiaskan emosinya dengan menikmati drakor. Penggemar baru drakor bermunculan terutama sejak salah satu serial yang viral akhir-akhir ini.

Mau menghibur diri sekaligus mendapatkan ilmu seputar parenting dan keluarga? Bisa banget dilakukan dengan nonton drakor. Catatannya, pilih drakor yang temanya seputar parenting, keluarga, dll. Yeah, meskipun saya lebih suka menonton drama genre komedi supaya benar-benar terhibur, tidak makin pusing dan jadi pikiran setelah nonton. 

Ayah/Bunda suka nonton drakor genre apa nih? Apa drakor favorit semuanya? Salah satu drakor yang (sebenarnya bukan favorit juga sih, tapi cukup berkesan) adalaqh Sky Castle yang dirilis pada tahun 2019 lalu. 

Review Singkat dan Sinopsis Drakor 'Sky Castle'

SKY CASTLE menceritakan kisah 4 keluarga yang tinggal di lingkungan elite bernama Sky Castle. Lingkungan tersebut adalah perumahan khusus untuk para dokter di salah satu rumah sakit. Para istri di masing-masing keluarga mencoba membuat suami mereka semakin sukses dan juga terobsesi terhadap pendidikan anak-anak mereka. Di sana digambarkan bahwa masuk fakultas kedokteran adalah salah satu prestige yang dikejar yang pastinya akan menngangkat status sosial keluarga. 

Tersebutlah Han Seo Jin (Yum Jung Ah) menikah dengan ahli bedah ortopedi Kang Joon Sang (Jung Joon Ho), dan mereka memiliki dua anak perempuan. Seo Jin tampaknya memiliki kehidupan yang sangat sempurna, tetapi ia memiliki rahasia yang ia simpan dari teman-temannya. 

Suatu saat salah seorang ibu, Lee Myung Joo (Kim Jung Nam) ditemukan bunuh diri. Ketiga keluarga tetangga yang paling sering berinteraksi dengannya tak ayal terkejut dan heran. Sebelumnya, anak laki-lakinya ‘dipamerkan’ masuk fakultas kedokteran dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. 

Adalah Lee Soo Im (Lee Tae Ran), seorang penulis buku anak-anak yang merupakan penghuni baru Sky Castle dan menjadi tetangga mereka. Berbeda dengan karakter keluarga lain yang menginginkan anaknya menyusul jejak sang ayah menjadi dokter dan masuk perguruan tinggi bergengsi, Seoul National University (SNU). Ia dan suaminya lebih demokratis dan tak pernah menekan anaknya untuk selalu menjadi yang pertama di sekolah. Sejak kematian Lee Myung Joo, Soo Im menjadi tertarik dengan pendidikan anak-anak di lingkungannya dan hendak menulis buku seputar itu. 

Karakter lainnya adalah No Seung Hye (Yoon Se Ah) yang menikah dengan profesor sekolah hukum Cha Min Hyuk (Kim Byung Chul). Suaminya berbicara tentang keadilan dan kebahagiaan, tetapi ia adalah seseorang yang memiliki egoisme tinggi. Sementara, Jin Jin Hee (Oh Na Ra) yang berasal dari keluarga kaya, ia mengagumi Han Seo Jin dan mencoba untuk mengikuti apa yang Seo Jin lakukan untuk anak-anaknya. Jin Jin Hee menikah dengan seorang ahli bedah ortopedi, Woo Yang Woo (Jo Jae Yun). 

Konon drama ini berhasil mengalahkan rating ‘Goblin’ (2016) meski awalnya banyak yang tidak tertarik. Banyak intrik yang terjadi dan penggambaran bagaimana keluarga kaya raya nan elite itu ‘menghambur-hamburkan’ uang demi mendapatkan guru les yang bisa menjamin pesertanya masuk universitas bergengsi. 

Bagi mereka, bagaimanapun caranya, baik cara legal maupun ilegal, akan dilakukan demi sang anak bisa masuk ke jurusan di universitas bergengsi dan akan mereka ‘pamerkan’ dalam acara-acara bersama. 

Tak hanya menyorot tema pendidikan, drama Korea Sky Castle juga menyajikan kisah yang berbau psikologi dan misteri, yakni pada diri sang konselor/guru les yang misterius dan mematok harga tinggi tersebut. Diceritakan sebenarnya, praktik les privat berbiaya mahal menyalahi undang-undang di Korea Selatan. Jika ketahuan, pelakunya akan dipenjarakan. 

Di sini, intrik antar dokter di rumah sakit, para istri yang ikut mencari ‘dukungan’ bagi suami, istri yang juga berperan sebagai ibu dan mempressure anak-anaknya untuk selalu menjadi nomor 1 dengan cara apapun, juga sedikit bumbu percintaan menjadikan drama ini komplet. 

Meskipun bagi saya drakor ini awalnya datar, apalagi episodenya hingga 20, akhirnya tetap membuat saya betah untuk nonton. Awalnya memang terasa tidak relate dengan kehidupan saya secara khusus maupun dengan budaya di Indonesia. namun akhirnya saya menemukan benang merah bahwa seseorang yang saat sekolah prestasi akademisnya cemerlang, akan cenderung menuntut anaknya menjadi demikian. 

Oh ya, sebenarnya aktor drakor favorit saya di drakor Sky Castle ini hanya Kim Bora yang berperan sebagai Kim Hye Na. Gadis yatim ini adalah gadis cerdas dengan prestasi akademik gemilang. Ia harus menanggung ibunya yang dirawat di rumah sakit sehingga ia pun memanfaatkan potensinya itu untuk mengajar les privat. Rupanya, ada hubungan masa lalu ibu Hye Na dengan keluarga Ye Seo, teman sekolah sekaligus kakak dari adik les-nya, Ye Bin. Sayang, hal tak mengenakkan terjadi terhadap Hye Na. Nah, bagi yang belum nonton, silakan bisa nonton dulu ya! 

review singkat dan sinopsis drakor sky castle

5 Inspirasi Parenting dalam Drakor 'Sky Castle'

Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, meski tidak sesuai dengan kehidupan dan budaya di negara kita tercinta, ada beberapa poin yang bisa kita ambil pelajarannya terutama seputar parenting. 

1. Biarkan Anak dengan Potensinya, Jangan Paksa Mengikuti Kehendak Orang Tua

Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan yang baik dan kebahagiaan untuk anak-anaknya. Sayangnya, seringkali yang terjadi adalah mereka berpikir dengan cara mereka, tanpa melibatkan anak-anak dalam setiap keputusan. Pola didik otoriter dan berlindung di balik kata ‘demi kebahagiaan kalian’ akan membuat anak-anak tertekan dan menyimpan emosi yang bisa kapan saja meledak ibarat bom waktu. 

2. Berhenti Membandingkan

Setiap anak adalah pribadi yang unik, sehingga orang tua harus menyadari hal ini. mereka dilahirkan sepaket dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Membandingkan kelebihan di antara mereka hanya akan membuat masalah baru. 

Salah satu keluarga di drama ‘Sky Castle’ memiliki 2 anak perempuan dengan karakter yang berbeda. Sang ibu terlihat lebih menyayangi si kakak yang prestasi akademisnya cemerlang. Sementara si Adik yang ‘biasa saja’ sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Hal ini tentunya membuat si Adik sakit hati dan memberontak.

3. Menjadi Orang Tua Demoktaris Cenderung Membuat Anak Bahagia

Pola didik yang demokratis diterapkan dalam keluarga si pendatang baru, Soo Im dan suaminya, dengan anaknya Woo Joo. Woo Joo tidak pernah mengikuti les privat apalagi yang berbiaya mahal, namun beberapa kali ia mendapat nilai tertinggi dalam ujian sekolah. Hal ini tentu mengusik ibu-ibu yang lain yang mati-matian mencari cara agar nilai sekolah anaknya selalu tinggi. 

Woo Joo tumbuh dengan pola asuh keluarganya yang demokratis, menjadi lebih bahagia dan tanpa beban saat belajar. Ia belajar dengan kemauannya sendiri dan ketika nilai-nilainya turun, orang tuanya tidak memberinya hukuman, hanya memberikan nasihat dan motivasi supaya lebih giat lagi belajar. 

4. Bangun Karakter Positif Anak Terlebih Dahulu

Pendidikan karakter (akhlak, adab) menjadi pondasi penting dalam pendidikan anak. di era ini, banyak pemuda yang tidak mengenal adab. Akhlaknya kurang baik di masyarakat meski prestasinya ‘mentereng’. Contoh ringan, banyak mahasiswa yang tidak menggunakan bahasa semestinya ketika menghubungi dosen, atau saat berbicara dengan orang yang lebih tua. 

Di dalam drakor Sky Castle, Kang Ye Bin, adik Kang Ye Seo yang merupakan 2 anak perempuan Han Seo Jin memiliki karakter yang berbeda. Ye Bin cenderung memberontak karena sering dibandingkan dengan kakaknya. Sama seperti anak-anak lainnya, ia harus mengikuti pelajaran tambahan hingga malam. Lelah, tapi orang tuanya tetap menuntut agar nilai akademisnya meningkat. 

Di salah satu adegan, terlihat Ye Bin dan teman-temannya mencuri makanan ringan di minimarket. Pemilik minimarket terlihat pura-pura tidak tahu dengan hal tersebut. Rupanya, di belakang semua itu ada Seo Jin yang memberikan sejumlah uang untuk membayar apa saja yang diambil anaknya dan meminta pemilik minimarket menghapus barang bukti berupa rekaman cctv. 

Bagaimana jadinya jika kebiasaan mencuri itu terbawa hingga dewasa? 

Inilah PR besar kita, bagaimana mendidik anak dengan akhlak yang baik dan mampu menghadapi tantangan zaman.

5. Prestasi tak Melulu Akademis, Gali Potensi Lainnya

Dewasa ini, orang tua sudah semakin memahami bahwa prestasi anak-anaknya tidak hanya soal nilai pelajaran matematika, Bahasa Inggris, dan hal-hal akademis lainnya. Seorang anak bisa berprestasi melalui seni, olah raga, bahkan sikapnya. 

Kecerdasan yang dominan dimiliki oleh satu anak tidak sama dengan anak lainnya. oleh karena itu, orang tua harus terus menggali dan mengarahkan potensi dan kecerdasannya tersebut.

Tak apa tak jago matematika, ia bisa menguasai bahasa. Tak mengapa tak punya prestasi bergengsi di sekolah, namun banyak teman yang menyukainya, dll. Setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing. 

Sebenarnya masih banyak hal menarik yang bisa dikulik dari drakor Sky Castle, terlepas dari drakornya yang terkesan datar. Itulah 5 hal seputar parenting yang bisa kita ambil setelah menonton drama tersebut. 

Jika Ayah/Bunda pernah menontonnya dan punya pengalaman yang berbeda, tak pelu segan untuk membaginya di kolom komentar.

Semoga bermanfaat, 

Salam, 

2 komentar untuk " 5 Inspirasi Pengasuhan di Drakor 'Sky Castle'"

  1. Sky Castle itu drama yang gak niat kutonton tapi ternyata nagih banget. Dark ala-ala deh. Masing-masing keluarga juga punya masalah sendiri

    BalasHapus
  2. Waah aku pernah nonton tapi ga ngikutin sampai ending. Pankapan nonton ah, tengkyu sha ingnya ya Bund

    BalasHapus

Posting Komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,