Serba-serbi Sekolah Daring di Masa Pandemi

Daftar Isi
pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring di masa pandemi
photo created by freepik - www.freepik.com

Memasuki pekan kedua sekolah dalam jaringan (daring), rasanya semakin nano-nano.  Tak heran jika banyak orang tua yang menolak jika pemerintah menetapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) ini untuk jangka panjang. Bagaimana tidak, warga yang tinggal di kota besar saja mengalami berbagai kendala apalagi yang di perdesaan? Yang notabene akses internet jauh lebih buruk dibanding di kota.
Banyak guru kreatif di kampung-kampung yang harus mengalah untuk mendatangi siswanya setiap pagi bergiliran. Maklum, masih banyak warga apalagi di desa umumnya tidak memiliki gawai yang memadai. Jangankan berbicara tentang kuota internet, perangkatnya saja sudah kurang mendukung.

Saya mengenal beberapa remaja (pelajar) di desa saya yang memiliki gawai dan bermain medsos. Namun mereka hanya membeli kuota dengan uang saku dan atau uang dari orang tuanya yang terbatas. Sesekali menumpang wifi atau memanfaatkan kuota murah dan beberapa layanan medsos gratis meski dengan risiko hanya bisa membaca teks tanpa melihat gambar. Kalau sudah begini, mana bisa kelas online berjalan dengan baik? Yang terjadi adalah mereka senang karena ‘libur panjang’.

Duh, malah ngalor-ngidul ke mana-mana wong mau bahas serba-serbi sekolah online di masa pandemi. Yuk lah kita lanjut lagi.

Beberapa kendala Sekolah Daring di Masa Pandemi

Baru sepekan memulai, saya sudah kehilangan kesabaran meng-handle si Kakak untuk sekolah dari rumah. Kalau ada yang jual kapsul sabar, saya ingin memborongnya. Bagaimana tidak, pagi-pagi sudah dimulai dengan drama bangun tidur, mandi, lalu pakai seragam. Adiknya sedang tahap copy-paste si Kakak sehingga apapun yang dilakukan kakaknya, dia harus ikut juga. untunglah dia cukup puas memakai seragam TK kakaknya yang masih kedodoran.

Baru mulai berdoa sebelum pelajaran berlangsung, sudah ada ‘panggilan sayang’ dari teman-temannya yang mengajak main sepeda di depan rumah. Fokus belajarnya yang memang belum baik makin terganggu dengan celoteh-celoteh dari depan rumah. GGGGRRRHHH! Pagi-pagi sudah berasa ingin menerkam mangsa.  

Baiklah, saya tuliskan beberapa ‘drama’ dan kendala yang saya hadapi dan juga overheard alias ‘nguping’ eh nggak sengaja dengar dari orang lain.

1.’Rebutan’ Isi Presensi di Grup WA Kelas

Saya sudah tersenyum simpul sejak dimulainya kelas di WAG. Saat wali kelas membuka daftar presensi untuk diisi oleh masing-masing orang tua, berkali-kali ada chat yang tertimpa dan harus bolak-bolik membubuhkan nama anak kembali ke dalam daftar presensi. Ini mengingatkan saya pada lalu-lintas grup WA para blogger saat sedang ramai.

Ah, tapi ini hanyalah ‘drama’ pagi yang tak ada apa-apanya dibanding ‘buntut’ pandemi di dunia pendidikan. Ya, ini hanya ‘camilan’ pagi yang membuat saya bisa tersenyum di tengah kusut-masainya hari-hari di masa pandemi.

2. Jaringan Internet Tidak Stabil

Saya yang notabene tinggal di kota besar pun masih sering mengalami kendala internet ngadat sehingga sekadar membuka medsos pun butuh waktu lama untuk loading.

Bagaimana dengan yang di pelosok? Tak perlu jauh-jauh, adik kandung saya yang sedang kuliah pun merasa sangat kesulitan mengikuti kelas online saat dia ‘dipulangkan’ dari pesantren karena pandemi. Mau tak mau ia harus menjalani kelas online dengan sinyal yang timbul tenggelam di sana. Desa saya bisa dijangkau dengan perjalanan kurang lebih 15 menit dari pusat kota kabupaten, bukan desa yang sangat jauh di pelosok.

3. Kuota Internet Jebol

“Bund, kenapa internetnya tinggal sekian GB?!” protes suami saya dengan wajah bersungut-sungut. Baru sepekan membeli kuota internet 20GB sudah hampir setenganya terpakai. Saya hanya menjawab dengan nyengir kuda dan memasang wajah tak berdosa.

Sebenarnya kuota sebanyak itu memang kuota keluarga dengan 4 nomor terdaftar termasuk nomor saya. Nomor HP suami termasuk dalam daftar tetapi hanya untuk memantau dan menggunakannya saat darurat. Beliau memilih membeli paket kuota internet lain yang lebih ekonomis. Jika di tempat kerja, ada wifi yang kecepatannya ‘wuzwuz’ sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik.

Ehem! Selain penggunakan kuota untuk membuka video yang berseliweran di grup kelas, mengirim tugas ke wali kelas, juga dipakai untuk sesekali mengikuti webinar zoom, video call dengan keluarga, dan lain-lain. Ah ya! kuota juga kadang jebol gara-gara kalap nonton drakor via telegram dan atau nonton IG TV dan Watch FB. Ya Allah ampuni hamba. Ini juga sarana biar bunda tetap waras, kan...

4. Belum Semua Menguasai Teknologi

Banyak pengajar yang sudah sepuh dan tidak melek teknologi baru. Tak hanya pengajar, tak semua orang tua juga memahami teknologi informasi terkini. Kita pun belum menemukan formula yang tepat dan efektif untuk PJJ di masa pandemi ini. Semuanya masih meraba-raba, trial and error.

Bagi sekolah yang basis teknologinya sudah bagus, ada yang membuat web dan aplikasi untuk memudahkan pelajaran dan evaluasi belajar serta koordinasi antara guru dengan orang tua. Bagaimana dengan sekolah yang fasilitasnya minim?.

Guru pun sudah harus bekerja lebih keras. Membuat materi pelajaran dalam bentuk video tentunya butuh latihan dan waktu lebih lama untuk memprosesnya. Belum lagi jika ada komplain dari orang tua atau masih banyak yang belum bisa menggunakan aplikasi. Sesi belajar online pun jadi ambyar. 

5. Tidak Semua Orang Tua Bisa Mendampingi Anak-Anak

Setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda sehingga prioritasnya pun tak sama. Pembelajaran jarak jauh menjadi masalah baru bagi Ayah/bunda yang bekerja. Tak hanya bagi yang bekerja, bagi ibu rumah tangga pun menjadi tantangan berat karena harus menyesuaikan jadwal sekolah anak dengan aktivitas rumah tangga, belum lagi jika masih mengasuh bayi/balita. Fyuuuh!

Bagi anak SMA dan kuliah atau SMP kelas 2-3 sudah bisa mulai belajar madiri, namun anak usia SD dan TK yang juga harus sekolah daring adalah PR besar untuk guru dan orang tua. Tak hanya urusan mendampingi, fasilitas pun menjadi ‘rebutan’ kecuali bagi keluarga yang bisa menyediakan gawai untuk masing-masing anak.

6. Anak Lebih Nyaman Belajar di Sekolah

Senin pagi, setelah tak bisa menahan ‘auman’ karena si Kakak yang ngambek ‘sekolah’, saya biarkan ia istirahat sejenak. Daripada saya makin marah, saya coba menyalurkan energi dengan latihan gowes. Iya, nggak perlu dibahas ya kalau saya belum lancar gowes.

Baru beberapa rumah saya lewati, terdengar seorang ibu dengan nada tinggi ‘menceramahi’ anaknya. Saya menahan senyum kecut sambil terus berusaha menyeimbangkan laju sepeda. Sekian rumah lagi, di dua rumah berdampingan terjadi hal yang sama. Ualala! Berarti tadi pun mereka mendengar teriakan saya juga pastinya.

Anak tidak nyaman belajar di rumah, orang tua pun tidak semua bisa mengajarkan semua hal kepada anak. hal yang niscaya, karena tidak punya bekal memadai untuk menjadi guru.

Seperti si Kakak, dia lebih enjoy belajar bersama teman-temannya ketimbang hanya melihat mereka di dunia maya. Meskipun ketika ditanya oleh gurunya dia belum berani menjawab. Suara yang keluar sangat kecil hampir tak terdengar. Namun jika ditanya apakah dia senang di sekolah, jawabannya selalu sama, senang karena bisa bareng teman-teman.

Kita memang belum menemukan konsep pembelajaran jarak jauh yang sesuai. Jadi butuh pengorbanan untuk mengikuti alur yang sudah ada. Semoga ke depannya semakin baik dan pandemi segera usai agar sebisa mungkin tidak 100 % mengandalkan pembelajaran daring. Apalagi orang tua juga tetap membayar SPP. Tak urung gurunya pun harus bekerja lebih keras dibanding sebelumnya.

Di tengah keluh-kesah saya mengenai pembelajaran daring ini, ada banyak hal yang harus disyukuri salah satunya waktu yang lebih lama bersama anak.

Semoga bersama-sama kita bisa melalui masa-masa ini sampai kembali menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk anak-anak kita. Aamiin.

Semoga bermanfaat,

Salam,

Posting Komentar

Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner