Waktu untuk Sendiri, Seberapa Penting?

pentingnya me time waktu untuk menyendiri

Kehidupan berumah tangga akan selalu dibumbui berbagai masalah. Tak terkecuali rumah tangga pesohor maupun bukan, sultan maupun rakyat jelata. Salah satu hal yang mendasar adalah akibat perbedaan fitrah antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan ini memunculkan juga perbedaan emosi dan cara menghadapi masalah. 
Perempuan pada umumnya ketika mendapat masalah akan berusaha menyelesaikan dengan perasaannya. Ia ingin selalu didengarkan keluh kesahnya, menghabiskan ‘jatah’ 20 ribu kata yang bisa diproduksinya setiap hari. Sementara laki-laki yang mengedepankan logika akan berusaha berpikir bagaimana menemukan solusi dan masalah yang dihadapi menjadi sederhana. Ia tidak banyak omong, tetapi terus berpikir dalam diamnya. Itulah salah satu alasan baik laki-laki maupun perempuan butuh waktu untuk fokus dengan dirinya sendiri.

Dalam buku ‘Bahagianya Merayakan Cinta’ Salim A Fillah menukil kisah Rasulullah yang sedang bermasalah dengan istri-istri beliau. Beliau pun mengasingkan diri dari istrinya selama sebulan hingga Allah menurunkan ayat Alquran untuk disampaikan kepada ummahatul mu’minin. 

Allah SWT berfirman dalam Q.S Al-Ahzab: 28-29 yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut'ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.”

Ternyata, beginilah gambaran ketika seorang suami memiliki masalah. Ia lebih nyaman untuk berdiam diri dalam ‘gua’ dan berpikir untuk menyelesaikan masalah dalam keheningan. Sementara bagi seorang istri, bercerita dengan orang yang mau mendengarkan adalah kenyamanan.

Dulu, masa-masa awal menikah saya sering cemburu dengan laptop suami. Karena beliau setiap hari asyik bermain game online dan berkutat dengan laptop-nya.  Sebagai pasangan yang masih tahap saling mengenal alias dalam masa pacaran halal, ini menjadi masalah yang cukup memberatkan saya. 

Rupanya, waktu itu suami juga masih sedang belajar menyesuaikan ritme hidup setelah menikah, juga harus ‘ngopeni’ istri yang belum dipahami maunya, berpikir tentang masa depan, dll. 
Lambat laun akhirnya saya bisa memahami bahwa laki-laki pun membutuhkan waktu untuk sesekali sendiri. Entah itu disalurkan dengan aktivitas yang menjadi hobinya, atau sekadar melakukan kegiatan bersama teman-temannya tanpa mengajak anak/istri. Meskipun sekarang sering lupa saking inginnya segera gantian jaga anak, kadang suami sedang ada acara bersama teman-temannya ditanya kapan pulang :P

Ternyata me time tak hanya untuk kaum hawa yang tengah jenuh dengan aktivitas rutin. Laki-laki juga butuh waktu untuk menyendiri tanpa ‘gangguan’ orang lain. Jadi, berdasarkan pengalaman, bisa disimpulkan bahwa quality time dalam kehidupan keluarga bisa dibagi menjadi 4 yaitu: quality time untuk diri sendiri, waktu berdua dengan pasangan, waktu bersama keluarga inti, dan waktu bersama keluarga besar.

1. Waktu untuk Sendiri

Seperti yang sudah dibahas di atas, setiap orang butuh waktu untuk sendiri, terlebih bagi seorang introvert yang lebih banyak mendapat motivasi dan solusi dari dirinya sendiri. seorang introvert sangat bisa menjadi supel di tengah banyak orang, tetapi ia mendapat stimulasi dari diri sendiri, bukan dari orang lain.

Setiap orang membutuhkan waktu untuk sendiri, sebagai bentuk self love-nya. Bagi saya, me time adalah waktu untuk recharge, untuk menambah energi yang telah berkurang atau bahkan tinggal sisa-sisa. Tak harus muluk-muluk wujud me-time, kadang sekadar bisa tidur nyenyak tanpa gangguan atau bisa punya waktu untuk tilawah dan atau membaca buku dengan sangat tenang adalah momen yang sangat berharga. 

Dalam kehidupan berumah tangga, setiap anggotanya adalah seorang individu sebelum menyandang status suami atau istri. Maksudnya, meskipun seorang istri atau suami, ia tetaplah individu yang punya hak untuk dirinya sendiri.  

2. Waktu Bersama Pasangan

Quality time yang tak kalah penting adalah waktu berdua bersama pasangan. Ketika sudah memiliki anak, waktu untuk berdua saja adalah waktu yang mahal. Terlebih kami, yang tinggal di perantauan tanpa saudara yang dekat. Quality time kami hanya saat si Kakak sekolah atau anak-anak sedang tidur. Kami bisa mengobrol dengan lepas tanpa beban, tanpa ‘gangguan’ anak-anak, membaca buku atau nonton film bersama. Inginnya sih bisa candle light dinner berdua gitu, tapi belum memungkinkan. Hehe. mungkin suatu saat nanti ketika bisa pulang kampung dan nitip anak-anak ke kakek/neneknya. 

pentingnya quality time bersama keluarga
Source: freepic, credit tirachardz

3. Waktu Bersama Keluarga Inti

Waktu bersama keluarga inti, adalah yang paling sering diartikan sebagai ‘quality time’ oleh banyak orang. Bukan sekadar bersama-sama di dalam rumah dengan aktivitas masing-masing atau malah sibuk dengan gawai, melainkan benar-benar waktu produktif untuk membangun bonding antaranggota keluarga. 

Di masa pandemi sekarang ini, saat belum bisa melakukan aktivitas bersama di luar rumah, quality time bisa dilakukan dengan kegiatan tilawah, memasak bersama, berkebun, membaca buku, atau sekadar berseda gurau. 

Keluarga inti adalah support system pertama untuk masing-masing individu. Di sinilah seharusnya setiap anggota keluarga merasakan kenyamanan yang tidak didapatkan di tempat lain. Keluarga adalah tempat untuk ‘pulang’ dari segala bahagia, duka cita, dan keluh kesah. 

4. Waktu Bersama Keluarga Besar

Bagi perantauan seperti saya, quality time bersama keluarga adalah yang paling mahal. Bagaimana tidak, jika kami mudik dengan jalur yang cukup rumit dan repot (seperti naik pesawat murah via Solo lalu dari Solo ke Semarang naik bis), paling tidak butuh dana sekitar 8 jutu rupiah. Jika tidak dibarengi cara rempong begini, pastinya dana akan lebih membengkak. 

Itulah sebabnya setiap mudik yang hanya beberapa hari itu, kami maksimalkan untuk bersama keluarga di kampung halaman dan silaturrahim kekeluarga besar. Meski tidak semua keluarga bisa kami sambangi, mengingat banyaknya keluarga sementara waktu kami sangat terbatas.

Semoga kelak bisa punya mobil sendiri yang proper untuk roadtrip Denpasar – Semarang – Wonosobo supaya ketika mudik dan balik bisa sekalian wisata dan silaturrahim ke keluarga/kenalan di jalur yang dilalui. Aamiin.

Well, Ayah/Bunda dan calon Ayah/Bunda pastinya sudah lebih paham tentang hal ini daripada saya. Gara-gara menulis tema ini, saya membuka kembali buku ‘Bahagianya Merayakan Cinta’ yang sangat bermanfaat sebagai salah satu panduan menjalani biduk rumah tangga. Dari sini, saya kembali ngeh kalau selama ini saya salah menyikapi suami yang sedang ingin sendiri. seperti kebanyakan perempuan, ketika suami diam malah 'diganggu' ditanya ini-itu, padahal harusnya didiamkan saja, sampai ia yang membuka diri kembali, sampai dia keluar dari ‘gua’-nya sendiri. 

Setelah membaca dan mengambil kesimpulan, saya mencoba mengonfirmasi hal tersebut kepada suami. Hasilnya persis seperti yang tertulis dalam buku. Alhamdulillah, ada manfaatnya saya membaca kembali buku tersebut. Setidaknya menjadi pengingat dan pelajaran untuk ke depan bahwa masing-masing kita sebagai individu juga butuh me time sekecil apapun. 

Ibarat mesin, kita juga butuh untuk istirahat sejenak untuk servis, ganti onderdil, atau sekadar mendinginkan mesin yang sudah panas karena terus bergerak. 

Semoga bermanfaat, silakan bisa sharing juga tentang quality time di kolom komentarya!
Salam, 

Tidak ada komentar untuk "Waktu untuk Sendiri, Seberapa Penting? "