Dr. Reisa Broto Asmoro and New Normal School Activity

Daftar Isi
dr reisa broto asmoro anggota tim komunikasi publik gugus tugas percepatan penanganan covid-19
sumber gambar: Republika

Sekilas tentang Sosok dr. Reisa Broto Asmoro 

Siapa tak kenal dokter cantik Reisa Broto Asmoro yang akhir-akhir ini sering kita jumpai di layar televisi? Bisa dikatakan sekarang seluruh Indonesia mengenal beliau, terutama sejak perannya sebagai salah satu anggota dari tim komunikasi publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Beliau kerap menggantikan tugas Pak Achmad Yurianto sebagai juru bicara.
Sosoknya telah lama dijumpai di televisi terutama setelah menjadi host salah satu acara kesehatan yang populer di kalangan masyarakat. Sebelumnya, beliau juga sudah malang melintang di dunia hiburan, menjadi model dan bintang iklan, bahkan menjuarai ajang pemilihan puteri Indonesia 2010 dan menyabet gelar Puteri Indonesia Lingkungan. 

Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Reisa Broto Asmoro, adalah nama lain beliau. Karirnya dalam dunia kedokteran juga cemerlang. Di balik paras ayunya, beliau berkecimpung di dunia forensik dan menjadi salah satu anggota tim DVI  (Disaster Victim Identification) dalam beberapa kasus yang terjadi di Jakarta. 

Sosok Ibu yang Lembut

Saya salah satu orang yang mengidolakan sosok Dokter Reisa Broto Asmoro terutama semenjak beliau menjadi host di TV. Suaranya yang khas nan lembut terasa sampai ke hati. Bukan berlebihan, tapi memang seperti itu yang saya rasakan ketika pertama kali mendengar suara beliau menggantikan dokter sebelumnya. 

Lembut tapi tetap tegas, itu yang saya tangkap saat dulu sesekali kepo akun beliau terutama setelah beliau memiliki buah hati. Ayah-Bunda pastinya juga punya pemikiran yang sama, bahwa kita bisa belajar ilmu parenting dari mana saja, termasuk public figure seperti beliau. Jika sesuai, mari digunakan ilmunya jika tidak bisa ditinggalkan. Take it or leave it. 

Waktu itu saya terkesan sekali saat dr. Resia menggubah lagu anak lalu menyanyikan lagu untuk anaknya yang masih bayi. Suaranya lembut dan menenangkan. Jika ada julukan ‘putri solo’ sosok beliau sangat mewakili. Oh ya, kekaguman saya terhadap beliau ini juga karena saya yang sering masih terlalu garang dengan anak. 

sekolah di masa new normal
Sumber gambar: Detikcom

Persiapan New Normal untuk Sekolah Anak 

Dalam akun instagramnya, dokter Reisa juga memberikan tips-tips menghadapi kehidupan kenormalan baru di masa pandemi covid-19. Mau tak mau, kita juga harus menghadapinya dengan berbagai persiapan dan ‘alat perang’ (baca: protokol kesehatan wajib).

Berhubung Ayah Hasna sejak awal tidak pernah work from home, hanya diberlakukan pengurangan jam kerja dan masuk bergantian, maka kebiasaan untuk mengganti pakaian, mandi dan bebersih badan setelah bepergian sudah cukup rutin dilakukan. Ada sih kadang lupa apalagi jika dinas malam, pulangnya dini hari.

Membahas sekolah anak, saya sebenarnya masih ragu akankah tetap melanjutkan sekolah di tengah situasi ini atau menunda si Kakak masuk SD untuk ajaran baru berikutnya. 

Belajar online sebenarnya juga membuat orang tua sangat kerepotan. Setiap hari harus berkutat dengan materi pelajaran dan mengawasi kegiatan belajar online. Belum lagi pekerjaan rumah yang tetap harus dilakukan. Di tengah pandemi, banyak pula asisten rumah tangga yang kemudian sementara waktu sehingga semuanya harus dikerjakan sendiri.

Saya yang sejak dulu tidak pernah punya asisten (apalagi masih tinggal di kontrakan seuprit) dan anak masih TK pun seringkali keteteran dengan seabrek kegiatan. Pertimbangan inilah yang membuat kami berpikir untuk menunda. Belum lagi biaya sekolah yang tetap harus dibayarkan setiap bulannya.

Namun setelah menyimak siaran pers dari kementrian pendidikan melalui youtube, kemungkinan terbesar kami akan tetap melanjutkan sekolah si Kakak tahun ini. kesempatan belajar di rumah semoga bisa dimanfaatkan untuk push calistung-nya yang masih tertinggal dibanding teman sekelasnya. 

Tahun ajaran baru 2020 akan tetap dimulai pada bulan Juli 2020, namun kegiatan belajar/mengajar masih menyesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Jika termasuk zona hijau, maka bisa diterapkan kembali ke sekolah dengan prosedur ketat dan izin berlapis dari dinas-dinas terkait. 

Mengenai hal ini, sebenarnya saya pun agak sanksi. Jika muridnya berada di zona oranye dan merah bagaimana? Apa mereka terpaksa harus tertinggal dengan teman-temannya yang sudah mulai masuk sekolah? entahlah, kita tunggu informasi dari pemegang kebijakan wilayah setempat saja kalau begini.

Tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau adalah:
•    Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B
•    Tahap II dilaksanakan dua bulan setelah tahap I: SD, MI, Paket A dan SLB
•   Tahap III dilaksanakan dua bulan setelah tahap II:  PAUD formal (TK, RA, dan TKLB) dan non formal.

Anak saya masih SD, sekarang saya masih bisa sedikit bernapas lega karena jika di sini masih masuk zona hijau, prosesnya masih akan menunggu evaluasi tahap pertama. Semoga semuanya bisa berjalan lancar sesuai harapan. Aamiin. 

Perlengkapan untuk Sekolah di Masa Kenormalan Baru

Dua hari yang lalu kami ke sekolah si Kakak untuk melakukan cap tiga jari ijazah sekaligus foto wisuda. Sebenarnya ada larangan untuk melakukan kegiatan yang mengumpulkan orang. Namun sekolah melakukan prosedur ketat dan bertahap sehingga tidak terjadi penumpukan orang di dalam aula.

Anak-anak dan pendamping yang datang wajib mencuci tangan sebelum masuk kelas, lalu cek suhu tubuh. Masing-masing juga harus mengenakan masker dari rumah. Sampai di kelas, anak-anak melakukan cap 3 jari ijazah, lalu satu persatu dipandu oleh guru berganti dengan baju wisuda yang sudah disemprot disinfektan. Anak-anak juga dibekali face shield sebelum duduk berjejer dengan jarak tiap kursi untuk melakukan foto bersama. 

Meski masih TK, rasanya agak trenyuh mengikuti kegiatan tersebut karena kami tidak leluasa untuk bercengkerama dengan wali murid lain seperti biasanya. Yah, meskipun sempat terpaksa untuk foto bersama dengan berdempet-dempet *tutupmuka*

Alhamdulillah, menjadi bagian dari orangtua yang anaknya lulus saat masa pandemi (meskipun hanya lulus TK), rasanya tetap campur aduk. Senang sekaligus sedih dan miris dengan segala kondisi ini. 

Tentunya, mulai sekarang kami harus lebih menekankan ke anak untuk mengikuti protokol kesehatan guna mencegah covid-19. Kelak jika sudah mulai masuk sekolah pun harus membekalinya dengan berbagai perlengkapan seperti hand sanitizer, face shield, masker, tisu, botol minum, bekal makanan, kantong plastik, dan sebagainya. Semoga, meskipun masih anak-anak lambat laun mereka akan memahami pentingnya hal tersebut. Hal ini tak lepas pula dari pengawasan bersama dari orang tua dan guru. 
New normal life bukanlah benar-benar kembali ke masa normal sebelum pandemi. Kenormalan baru ini adalah kita mencoba beraktivitas dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan dan menjaga interaksi dengan orang lain.

Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan terhindar dari covid-19 atau penyakit lainnya. aamiin. 

Semoga bermanfaat,

1 komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung dan memberikan feedback/komentar di blog ini.

Mohon untuk tidak menyematkan link hidup dan spamming lainnya. Jika tetap ada akan saya hapus.


Salam,
Comment Author Avatar
30 Juli, 2020 06:36 Hapus
Anakku sampai sekarang ya masih ikutan pembelajaran daring, sama sekali belum pernah ke sekolah secara fisik. Semarang loh masih di zona merah, cukup mengkhawatirkan karena di kecamatanku sini aparatnya sudah ada yang kena Covid. :(
Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Link Banner Intellifluence Logo Link Banner