YAICI - MUSLIMAT NU Bali Edukasi Gizi Bagi Ibu untuk Generasi Unggul

Denpasar, Bali. Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) menggandeng pengurus wilayah (PW) Muslimat NU Bali dalam kegiatan talkshow dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional 2019.
Kegiatan ini mengangkat tema seputar penggunaan kental manis (yang sampai saat ini masyarakat masih menyebutnya SUSU KENTAL MANIS) secara tepat guna dan tepat sasaran. Juga sosialisasi kental manis (bukan susu) sebagai produk produk yang tidak aman digunakan oleh balita, dan memutus mata rantai salah kaprah penggunaan kental manis.

Bertempat di Aula Gedung Keuangan Negara  Denpasar (7/12), ratusan pengurus cabang Muslimat NU se-Bali hadir memenuhi tempat yang disediakan.
Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan ini merupakan paa ahli di bidangnya, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.  Yaitu Ibu Dian Nardiani, SKM MPU yang merupakan Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bali; Ibu Budiastuti Arieswati, S.Si, Apt, M.Kes ; Ahli Muda pengawas Farmasi dan Makanan dari BPOM Provinsi Bali, Ketua PW Muslimat NU Bali Dra Hj. Ani Haniah, MA dan Bapak Arif Hidayat, SE,  MM selaku ketua harian YAICI.
Acara dimulai dengan serangkaian seremonial pembukaan, dimulai dengan pembacaan basmallah, pembacaan ayat suci Alquran, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muslimat NU. Dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak, yaitu sambutan dari Gubernur Bali yang diwakilkan oleh Kabid Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Sambutan Ketua PP Muslimat NU, Sambutan ketua PW Muslimat NU Bali. Seremonial pembukaan ditutup dengan doa.

 
Bapak Arif Hidayat, ketua harian YAICI


Memutus Mata Rantai Salah Kaprah Penggunaan Kental Manis

Kental manis, bukan susu, hanya produk olahan yang mengandung susu, namun hingga saat ini masyarakat lebih mengenalnya sebagai SUSU. Lebih-lebih di masyarakat pedesaan dimana kental manis sangat mudah didapatkan di warung terdekat dengan harga yang terjangkau.
Masyarakat dibodohi dengan iklan susu kental manis yang seolah-olah baik dikonsumsi sebagai makanan tunggal. Setelah menjual kasus kematian bayi usia 10 bulan di Kendari dan di Batam, barulah masyarakat mulai menyadari bahaya yang mengintai di balik susu kental manis.
Produk Ini tentu bukan produk yang bermasalah, karena memiliki izin edar dari BPOM. Hanya saja, sejak pertama kali diiklankan, telah menyesatkan pola pikir masyarakat. Mereka menganggap susu kental manis sama seperti produk susu lainnya dan aman digunakan untuk minum. Padahal susu kental manis mengandung 45 hingga 50% gula yang tentunya sangat tidak baik jika dikonsumsi terlebih oleh balita apalagi dalam jumlah yang banyak. Idealnya, kental manis hanya digunakan sebagai topping atau tambahan makanan dalam jumlah terbatas.
Sejak tahun 2018 BPOM mengeluarkan peraturan bahwa produk kental manis atau krimer kental manis tidak boleh menggunakan kata susu di dalam kemasannya. Namanya cukup kental manis atau krimer kental manis. Konsep iklannya pun diusulkan sedemikian rupa supaya tidak lagi menyesatkan.
Sayangnya, salah satu temuan YAICI menyebutkan bahwa masyarakat yang sudah tahu bahaya di balik kental manis mengaku masih akan memberikan kental manis untuk anaknya dengan alasan produk itu yang paling mudah ditemukan harganya paling terjangkau. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat supaya edukasi ini bisa sampai dan dilaksanakan sehingga salah kaprah pengetahuan seputar kental manis bisa teratasi.

sumber: kompas

“Salah satu kasus yang kami temui, seorang balita di Bantar gebang Jakarta diberi minuman kental manis sejak usia 2 tahun. Setiap harinya ia bisa minum 5-7 botol. Setelah ditelusuri, asalan mereka memberikan SKM karena si anak suka dan harganya murah sehingga bisa terbeli,” ujar Arif Hidayat ketua harian YAICI dalam takshow bersama Muslimat NU tersebut.
“Informasi mengenai kental manis mereka peroleh dari media massa baik TV, radio, dan media lainnya. sayang masyarakat masih beranggapan bahwa SKM adalah susu yang memiliki kandungan gizi dan baik untuk pertumbuhan anak,” lanjut Arif.
Selanjutnya, YAICI memberikan beberapa rekomendasi khusunya kepada masyarakat untuk lebih bijak mengonsumsi SKM. Rekomendasi juga diberikan kepada BPOM untuk turut mengawasi iklan SKM yang beredar di masyarakat dan memberikan batasan usia yang tepat mengenai penggunaannya, karena SKM TIDAK BISA MENGGANTIKAN ASI.


Mengenal dan Mencegah Stunting

Stunting atau kerdil adalah salah satu permasalahan kesehatan yang menjadi perhatian pemerintah. Secara umum gejala malnutrisi yang terjadi di sekitar kita adalah kerdil atau stunting, kurus (wasting) dan obesitas (obesity).
Stunting adalah bentuk kekurangan gizi kronis yang secara fisik memiliki tinggi badan dibawah standar pertumbuhan anak normal. Stunting dapat terjadi sejak janin dalam kandungan dan baru tampak pada saat anak berusia 2 tahun.
Tanda-tanda anak mengalami stunting yaitu: tubuh pendek di bawah rata-rata anak seusianya, berat badan tidak naik bahkan cenderung menurun, pertumbuhan gigi terlambat, kemampuan belajar menurun.
Jika anak mengalami stunting, akan berakibat terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme. Jangka panjangnya akan mengakibatkan menurunnya kemampuan kognitif, lemahnya kekebalan tubuh, dan risiko tinggi munculnya penyakit metabolik.
Mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya stunting dengan bahasan seputar kental manis?
Tentu saja hubungannya sangat erat, karena berkaitan dengan 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Masa golden age 1000 HPK harus dioptimalkan terutama melalui nutrisi yang seimbang baik dari ASI maupun MPASI. Dalam beberapa kasus bayi yang diberikan kental manis sebagai pengganti ASI, tentunya akan mengalami masalah malnutrisi dan bisa berakibat kematian bayi sebagaimana kasus yang pernah mencuat dan menimbulkan polemik seputar SKM.

Konsep makanan seimbang 'Isi Piringku'
“Mengapa kita fokus pada stunting? Yakni bukan semata pada ukuran pendek, tetapi lebih pada konsep bahwa proses terjadinya stunting bersamaan dengan proses terjadinya hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ lainnya, termasuk otak. Artinya, anak yang mengalami stunting berisiko tinggi mengalami hambatan gangguan lainnya dan akan berakibat buruk di masa dewasanya,” ujar Ibu Dian dari Dinkes Provinsi Bali.
“Kabar baiknya, kasus stunting cukup rendah di Bali. Namun secara umum di Indonesia masih menjadi perhatian pemerintah terutama untuk mencapai target generasi unggul 2045,” lanjut Ibu Dian.
Selanjutnya, beliau juga memaparkan untuk memberikan gizi seimbang terutama di masa 1000 HPK dengan konsep ‘ISI PIRINGKU’. ‘isi piringku’ ini berupa ½ piring terdiri dari: 1/3 buah-buahan dan 2/3 sayuran, ½ piring lainnya berupa 1/3 lauk dan 2/3 makanan pokok.


BPOM Awasi Label si-Kental Manis

Setelah terjadinya polemik dan kasus kematian bayi akibat konsumsi kental manis, BPOM mengeluarkan Peraturan Kepala (Perka) BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan peraturan ini merupakan revisi Peraturan BPOM Nomor 27 tahun 2017 tentang Pendaftaran Pangan Olahan. Dalam peraturan tersebut mewajibkan produsen mencantumkan beberapa hal pada label susu kental manis agar masyarakat dapat memanfaatkan produk ini sesuai fungsinya. Pada label SKM, produsen wajib mencantumkan keterangan bahwa “SKM tidak untuk menggantikan air susu ibu (ASI), tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan, serta tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi.”
Label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan.
Menurut Ibu Budiastuti dari BPOM Provinsi Bali, lebel pangan ditempel pada kemasan, dimasukkan ke dalam kemasan, ataupun dicetak langsung pada kemasan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam label pangan, yaitu: nama jenis makanan, pencantuman kode produksi, keterangan kadaluarsa, pangan olahan yang mengandung alergen, dll.
“Jika pangan mengandung  pemanis buatan, maka wajib mencantumkan kandungan dan peringatan mengenai penggunaannya,” terang Ibu Budiastuti.
“Masyarakat juga perlu jeli dan ikut berperan dalam mengawasi ataupun peduli dengan label pangan,” lanjut beliau.

Ibu Hj. Ani Haniah, ka PW Muslimat NU Bali

Makanan HALAL dan THAYYIB sebagai perwujudan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas)

"Kita sebagai umat islam, menerapkan ayat Alquran untuk makan yang HALAL DAN THAYYIB itu sejalan dengan usaha pemerintah dalam program gerakan masyarakat hidup sehat (germas)," ujar Ibu Hj. Ani Haniah, ketua PW Muslimat NU Bali yang menjadi narasumber terakhir dalam talkshow edukasi gizi untuk ibu bersama YAICI tersebut.
Beliau juga menjelaskan pentingnya memberikan ASI selama 2 tahun dan bagaimana kedudukan seorang ibu yang memberikan ASI-nya selama 2 tahun untuk anak-anaknya.
Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 233: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Tips memilih produk ala Ibu Ani

Beliau juga menekankan bagi umat islam untuk memerhatikan masalah kehalalan setiap barang yang dikonsumsi. Kehalalannya mencakup uang yang digunakan untuk membeli barang, bagaimana pengolahan barang, pengemasan hingga penyajiannya.
Menurut beliau, konsep makanan halal dan thayyib (baik) dalam agama islam sangat sejalan dengan pola hidup sehat. Makanan yang baik artinya dia tidak memberi pengaruh buruk terhadap tubuh, dan porsinya juga disesuaikan.
"Makanan bergizi bukan makanan yang mahal. Pilihlah yang sesuai dengan kemampuan," lanjut Ibu Ani.
Terakhir, beliau menegaskan bahwa Muslimat NU turut serta dalam mengawal program kesehatan untuk generasi emas 2045 yang diwujudkan dalam membiasakan Germas dan mendorong masyarakat untuk membiasakan hidup sehat.

Berfoto bersama rekan Blogger Bali

Selain acara talkshow, diadakan juga lomba kreasi makanan menggunakan bahan tambahan kental manis antar pengurus cabang Muslimat NU se-Bali. Mereka berkreasi sebaik mungkin untuk memperebutkan hadiah utama.

Salah satu kreasi peserta lomba
credit: YAICI


Semoga dengan sosialiasasi seperti ini, masyarakat semakin menyadari mengenai berbagai masalah kesehatan dan bijak dalam penggunaan produk yang tepat guna dan tepat sasaran, sehingga bisa terwujud generasi Indonesia emas 2045. Aamiin.
Semoga bermanfaat,
Salam,

#PanganSehat
#BijakPakaiSusuKentalManis
#AwasiIklanSKM
#CegahStunting