Malam itu aku tergugu. Sahut menyahut kabar muncul di beranda, tentang seorang anak istimewa, Ghaza.
Ghaza yang istimewa namun tetap memiliki cara cerdas untuk ‘melarikan diri’ dari rumahnya.
Tak terbayang bagaimana perasaan Bunda mendapati anak shalihnya telah keluar dari rumah tanpa seorang pun yang mengetahui. Ah, aku tahu perasaan itu, seperti saat 3 tahun yang lalu Hasna ‘pergi bermain’ tanpa pamit dan akhirnya kembali diantar seorang bapak yang menemukannya di pinggir jalan.

Sementara Ghaza tak jua pulang, meski Bunda Ghaza telah mencarinya ke berbagai tempat, juga meminta bantuan ke media sosial.
Tak terbayangkan rasanya seorang ibu saat anak kesayangannya tak tahu rimbanya, dengan berita yang simpang-siur dan beberapa saksi yang mengaku bertemu Ghaza tapi hanya sekilas. Oh, betapa remuk redamnya hati seorang ibu dengan itu semua? Sedang biasanya anak shalih itu meramaikan rumah dengan tingkah polahnya.
Terlebih saat esok harinya mendapati kenyataan si Shalih Ghaza ditemukan telah meninggal dunia, tenggelam di sebuah danau. Yaa Rabb... bagaimana mungkin hatinya tak makin hancur? Tapi masyaAllah, beliau memang seorang perempuan tangguh, ibu berhati baja yang sedemikian tegarnya menghadapi kejadian yang menimpa cahaya matanya.
Tak terbayangkan apa jadinya bila aku yang berada salam posisinya. Sedang saat anak-anak sedeikit berlebih menyalurkan energinya, suara sudah naik sekian oktaf. Juga emosi yang menggebu dalam hati, berharap anak-anak segera diam dan tak lagi membuat gaduh atau rumah berantakan.
Yaa Rabb... sungguh diri ini tak ada apa-apanya jika disandingkan dengan Bunda Ghaza. Beliau yang dengan sabar dan tegarnya menghadapi shalih Ghaza si Anak istimewa. Malu, rasanya ketika setiap hari mengeluh pada suami, atau menggerutu dengan banyaknya pekerjaan rumah dan tingkah polah anak-anak.
Padahal segala kerepotan itu belumlah seperti mereka yang dikaruniai keistimewaan oleh Allah, diberi amanah anak-anak yang berbeda dengan lainnya, anak-anak yang pasti akan masuk surga.
“Bunda, aku cuma mau bantuin Bunda masak, ko!”
Ali-alih membiarkannya eksplor di dapur, kadang aku justru menyuruhnya menyingkir. Ah, maafkan Bunda, Nak. Bunda pikir tak setiap saat kamu boleh ikut pegang ini-itu karena alasan keamanan. Tapi mungkin cara bunda menyuruhmu menyingkir itulah yang kurang tepat.
“Bunda, aku mau bantuin lipat baju.”
“Nggak usah, Kakak bantu jagain adik aja.”
Oh sungguh, aku justru telah memangkas keingintahuan dan proses belajarnya.
MasyaALlah, melalui Ghaza shalih dan Bundanya yang berhati cahaya, saya seolah mendapat tamparan telak. Belumlah anak-anak ini membanjiri lantai setiap hari, atau membogkar lemari setiap saat. Ya, hanya saat tertentu ketika mereka butuh perhatian lebih.
Ghaza, sekarang kamu bisa tertawa dan berlari dengan riang, Nak. Tak ada lagi pintu gerbang terkunci untuk menjagamu. Terima kasih telah menjadi pengingat buat kami.

Denpasar, 23 November 2019
Saat hati gerimis ketika berhenti di ‘beranda’ Bunda Ghaza