Assalamu'alaikum, Ayah Bunda.
Lagi-lagi sampai lama baru sharing di blog ini lagi. Ada banyak sekali hal di kepala yang butuh untuk dikelurkan, namun berbagai kesibukan menyita, juga sempat mengalami masa-masa mager, malas nulis, dan sebagainya.

Kali ini mau sharing yang ringan dulu, yaitu tentang outing class si Kakak.
Sepekan yang lalu sekolah kembali mengadakan outing class sebagai kegiatan setelah puncak tema. Kali ini tujuannya adalah pabrik tahu dan tempe 'Wahyu' di Sesetan, Panjer, Denpasar Selatan.

Kurang lebih pukul 7.30 WITA, anak-anak dan wali murid sudah bersiap di halaman sekolah. Seperti biasanya, mereka antusias dan heboh ketika ada kegiatan luar sekolah. Padahal bulan sebelumnya sudah outing juga ke kolam renang. Sengaja tidak ditulis karena tujuannya sama dengan kolam renang di tahun sebelumnya, dan pernah saya ulas saat renang bersama Kakek dan neneknya.

Anak-anak menuju pabrik dengan bemo (angkot_red), sedangkan sebagian orangtua/pendamping menggunakan kendaraan pribadi  dan bemo khusus pendamping.

Sekitar 30 menit perjalanan kami sampai di pabrik. Cuaca yang sangat panas tak menyurutkan semangat anak-anak untuk belajar.

Mereka dibagi menjadi 3 kelompok supaya tidak terlalu crowded. Kelompok pertama melihat proses pembuatan tempe dan tahu, kelompok kedua belajar berhitung dalam proses pembuatan tempe dan tahu, dan kelompok ke tiga belajar teknologi pengolahan kedelai menjadi tahu, tempe, dan susu kedelai. Mereka akan rolling sehingga semua kebagian ilmunya. Terakhir mencoba makan tahu dan tempe goreng serta minum susu kedelai.

Saya ingin ikut mengiringi anak-anak, sayang bunda yang memandu melarang kami ikut serta. Sebagai gantinya, kami diperkenankan melihat aktivitas pabrik sembari menunggu anak-anak selesai berkeliling.

Pekerja yang sibuk membungkus kedelai
Menurut salah seorang pegawai yang tengah membungkus kedelai untuk dijadikan tempe, pabrik ini mengolah paling sedikit 1,3 ton kedelai setiap harinya. Keren, ya! Ini bahkan baru untuk sekitar Denpasar saja. Malah pemasarannya tak sampai wilayah tempat tinggal saya di Denpasar Barat.

Saya tak bisa berlama-lama berkeliling karena si Kecil dalam gendongan tantrum, kepanasan.
Oh ya, saya sempat mencoba tahu dan tempe-nya, ternyata enak! Sayang tidak bisa mencoba susu kedelainya karena kehabisan.

Anak-anak dibekali tempe yang belum jadi
supaya bisa belajar proses fermentasinya

"Bunda, tadi aku makan tahu sama tempe gorengnya, enak!" Seru Hasna sepulang outing class.
"Oh ya?! Biasanya Kakak kurang suka tahu,"
"Sekarang suka, Bund. Yang tadi enak. Besok Bunda masak tahunya ya," ujarnya sembari memamerkan plastik berisi tahu dan tempe oleh-oleh dari pabrik.
Ya, pulangnya anak-anak mendapat bingkisan berisi tahu, tempe siap masak dan tempe yang belum jadi, masih berupa kedelai.

"Bunda, ini tadi Kakak ikut bungkusin kedelainya ke plastik loh..."
"Oh ya? Kakak hebat! Ada berapa sendok isinya?"
"Sepuluh sendok. Tapi yang tadi nggak sebanyak ini..." tambahnya.
Saya hanya nyengir menanggapinya. Tentu saja, yang dijadikan buah tangan ini adalah hasil bungkusan ibu-ibu pekerja, bukan hasil belajar anak-anak.
"Nah, yang ini kan belum jadi tempe, kita taruh di rumah ya, ditempatkan di tempat hangat. InsyaAllah besok jadi tempe. Sama kayak yang tadi Kakak lihat di pabrik."
"Iya, Bund. Besok jadi kayak tempe ini ya?" Katanya sambil heboh memamerkan tahu dan tempe itu ke ayahnya yang baru pulang kerja.

Esoknya, setelah kurang lebih 24 jam, tempe yang saya simpan di bawah meja itu telah sempurna terfermentasi. Sebelumnya Hasna pun tak sabar dan terus-terusan mengintip tempenya.
"Bunda.....! Tempenya sudah jadi! Wah...! Lihat ini Bund! Sudah jadi tempe kayak yang biasanya Bunda masak, ya!" Ujarnya riang.
"Wah, iya Alhamdulillah, besok kita masak tempenya, ya!"

Alhamdulillah, rupanya kunjungan ke pabrik tempe tersebut berkesan bagi Hasna. Beruntungnya, dia yang dulunya malas makan tahu sekarang mulai melirik, meskipun harus saya bubuhkan sedikit bumbu kaldu supaya rasanya lebih gurih.