Ocean Suka Buang Sampah Plastik di Pantai, Betul atau Salah?
“Halo....! namaku Ocean! Aku suka main di pantai. Tiap aku main di pantai, aku selalu membawa makanan dan minuman. Kamu suka main di pantai atau tidak?”
“Sukaaaa!” puluhan anak TK A menjawab serentak pertanyaan dari ‘Ocean’ yang diperankan oleh Kakak Yuna dari 4Ocean Bali.
“Panas ya di pantai... aku jadi haus. Aku minum dulu ya, Teman-teman...” Ocean pun memeragakan minum air mineral dalam kemasan botol. Setelah airnya habis, serta-merta ia membuang botol bekas minumnya ke sembarang tempat di pantai. Anak-anak kasak-kusuk melihat ulah si Ocean.
“Sekarang aku mau makan jajan. Nih, aku bawa banyak jajan dari rumah.” Selanjutnya, Ocean makan snack kemasan plastik lalu membuangnya.
“Yah... buang sampahnya sembarangan!” teriak anak-anak. Rupanya mereka memperhatikan betul ulah Ocean dan geregetan karena si Ocean membuang sampahnya sembarangan.
"Oh.. tidak boleh, buang sampah sembarangan, ya? kenapa?"
"Bikin banjir!"
"Jadi sarang nyamuk!"
"Nanti banyak semut!"
dan sederet jawaban lugu yang dilontarkan anak-anak.
“Sampah-sampah itu akhirnya terbawa ombak dan masuk ke dalam laut. Di dalam sana, ada si Hiu kecil, ada paus, ada kura-kura dan banyak lagi hewan yang hidup di laut mati karena makan plastik dan terperangkap sampah plastik yang banyak tersebar di lautan,” lanjut Kak Yuna. Anak-anak pun antusias menyimak.
Selanjutnya, mereka bermain games pemilahan sampah. Di gudang 4Ocean telah disediakan sampah yang tercampur. Anak-anak diminta untuk mengambil dan memasukkannya ke dalam tempat yang telah disediakan sesuai dengan kategorinya masing-masing. Diharapkan dengan kegiatan ini, anak-anak bisa memilah dan membuang sampah dengan benar.
si Ocean bersama kak Yuna

Bersih-bersih Sampah bersama 4Ocean di Pantai Brawe, Canggu
Sebelumnya, anak-anak itu telah bekerja keras membersihkan pantai Brawe dipandu oleh para Bunda sekolah dan kakak-kakak dari 4Ocean. Orangtua pun antusias dan sabar mengiringi anak-anaknya.
Berangkat bersama dari sekolah dengan menggunakan angkutan kota (atau dikenal dengan nama ‘Bemo’ di Bali), anak-anak tak sabar untuk beraktivitas di pantai Brawe dan melanjutkan kegiatan di gudang 4Ocean Bali.
Sampai di pantai, mereka mendapat arahan dari 4Ocean terkait kegiatan yang akan mereka ikuti. Anak-anak pun menggunakan sarung tangan, masker dan topi lalu serentak mengambil dan mengumpulkan sampah yang berserakan di sekitar pantai. Bergegas mereka mengambil sampah dan berlarian di pinggir pantai.

Persiapan sebelum bersih-bersih pantai di Brawe

Seru sekali mereka mengikuti kegiatan, tak peduli panas dan debu yang beterbangan. Sekitar 30 menit kegiatan selesai, dan anak-anak menyerahkan kembali karung yang telah terisi sampah.
Selepas dari pantai Brawe, anak-anak masih mengikuti kegiatan di gudang 4Ocean yang bertempat di daerah Padang Sambian, untuk lebih dalam lagi mendapat pengetahuan tentang bahaya sampah plastik terutama yang ada di laut.
4ocean sendiri adalah perusahaan Amerika Serikat yang fokus untuk menghilangkan sampah plastik dari laut dan didanai dengan menjual gelang yang terbuat dari bahan daur ulang. Perusahaan ini berjanji untuk mengeluarkan satu pon sampah dari laut dan garis pantai untuk setiap gelang yang dijual.

Makan Siang dan Belajar Memilah Sampah di Taman Lumintang Denpasar
Usai kegiatan di gudang 4Ocean, anak-anak pun menuju Taman Lumintang untuk kegiatan bebas dan makan siang.
Benar, di Kota Denpasar cukup banyak taman atau ruang terbuka umum yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk olahraga dan bermain anak. Sarana yang tersedia di taman pun sangat memadai, dilengkapi dengan aneka permaian anak dan alat olahraga untuk dewasa. Tong-tong sampah juga terlihat di sudut-sudut taman, sangat mudah terlihat dan ditemukan bahkan oleh anak-anak.
Usai menyantap makanan dan minuman yang disediakan oleh Bunda guru, si Kakak bergegas menuju tempat sampah.
Belajar langsung memilah sampah

“Bunda, aku yang buang aja!” ujarnya.
“Kakak tahu, ini dibuangnya ke wadah yang mana?”
“Tahulah, tadi kan sudah diajarin,” jawabnya mantap penuh percaya diri.
“Coba lihat dulu tempat sampahnya, dilihat gambar-gambarnya, ya!”
Saya hanya mengawasi dari jauh sementara dia mendekati tempat sampah. Tak mendapati gambar-gambar sebagai keterangan pemilahan sampah, si Kakak membuka satu per-satu tong sampah untuk membedakan isinya. Sebenarnya, di rumah kadang saya ajarkan untuk memilah sampah, namun belum konsisten.
“Sudah, Bund! Yang plastik buang ke sini, yang kertas ke sini,” ujarnya seraya memasukkan sampahnya.
Saya lihat keterangan di tong sampah memang menggunakan tulisan, dan si Kakak belum bisa membaca. Namun tong sampah di sudut lain Taman Lumintang ada yang menggunakan gambar sebagai keterangannya. Ini akan lebih memudahkan ‘terbaca’ oleh anak-anak kecil yang belum bisa membaca.
Good job, Kid! Lanjutkan, ya!
Masalah sampah terutama plastik memang sangat sulit diatasi. Karakter plastik yang tidak terurai hingga ratusan tahun membuatnya terus menumpuk di bumi. Dan kini, menjadi masalah global yang harus dihadapi bersama.
Ayah-Bunda tentu mendengar berita beberapa kali ikan paus mati dan di dalamnya terdapat belasan hingga puluhan kilogram sampah plastik. Selain ikan paus, binatang lain di ekosistem laut juga terkena imbasnya baik dari sampah plastik kecil berupa sedotan hingga botol dan kemasan. Binatang itu tidak bisa membedakan mana plastik dan mana makanan mereka. Yang terlihat hanyalah benda terapung dan ‘bisa dimakan’ sehingga plastik-plastik itu masuk ke perut dan menumpuk hingga menyebabkan kematian.
Tak hanya binatang, tumbuhan dan manusia juga dirugikan dengan banyaknya sampah plastik. Sebagai contoh, fakta mengenai garam yang beredar di masyarakat saat ini mengandung mikro plastik. Dari mana lagi plastik itu berasal jika bukan dari sampah yang berada di laut?
Benar-benar berhenti menggunakan bahan plastik memang mustahil untuk saat ini. setidaknya, kita bisa mengurangi penggunaannya dan beralih dari memakai barang (terutama berbahan plastik) sekali pakai ke barang-barang yang bisa digunakan berkali-kali.
Hal-hal kecil seperti beralih menggunakan sedotan raman lingkungan (dari bahan stainless steel, bambu, atau bahan lainnya), membawa air minum dalam tumbler sendiri sehingga tidak perlu membeli air minum dalam kemasan sekali pakai, membawa bekal, menggunakan kembali kantong plastik, membawa tas belanja sendiri, memilih makan di tempat dibanding take away, dll.
Ya, kita belum bisa berhenti, hanya bisa belajar dan terus berproses untuk MENGURANGI dan memulai HIDUP MINIM SAMPAH.
Balajar dari anak-anak TK yang diajarkan peduli lingkungan sejak dini, kita sebagai orangtua juga yang harus mengawal mereka dengan memberi teladan.
Semoga bermanfaat,