Jaman sekarang anak masih kutuan? Ih...! ibu-nya nggak becus ngurus mereka!
Ups! Ayah-Bunda pernah mendengar ucapan seperti ini? Hm.. tak perlu baper ya, anggap saja angin lalu yang sedikit kencang. Kita masih bisa melewatinya sambil lambai-lambai tangan dan kibas jilbab, hehe.
Kutu rambut memang sesuatu yang gampang-gampang susah. Gampang nyebarnya dan cukup susah membasminya. Seseorang (terutama anak) terkena kutu rambut bukan masalah tidak bersih atau ibunya tidak pandai ngopeni. Dalam banyak kasus, kutuan terjadi karena penularan yang begitu cepat dari satu orang ke orang lain terutama jika tidur bersama. Bahkan kontak hanya dengan memakai jilbab/mukena bergantian pun bisa menularkan benih kutu rambut.
Salah seorang kenalan bercerita anaknya terserang kutu rambut dan menular kepada adik-adiknya yang masih balita. Darimana si kakak ‘mendapat’ kutu? Ternyata dari acara menginap bersama teman sekolahnya. Mau bagaimana lagi? Menginap adalah salah sau program di sekolah si kakak yang bertujuan mengeratkan hubungan sesama teman sekaligus belajar beribadah sejak dini. Masalah kutu adalah efek samping yang tidak diinginkan tapi bukan masalah utama, karena bisa diatasi. Lebih baik mengatasi kutu rambut daripada harus membatasi anak saat bersosialisasi dengan teman-temannya, begitu kata teman saya.
Saya pun sependapat dengan beliau, dan saya teringat dulu saat mahasiswa dan kos bersama teman-teman di rumah kontrakan suatu saat ada ‘wabah’ kutu menyerang seluruh penghuni kos. Rasanya malu sekaligus aneh karena sudah besar ternyata bisa kutuan juga. Tapi karena kutu datang tak diundang dan begitu saja baranak pinak di kepala, lagi-lagi kita sebagai korban tidak bisa berkutik apalagi menolak kehadirannya.
Kutuan Saat Masih Kecil
Masa kecil saya yang di desa, di sebuah kampung yang masih sangat akrab dengan alam, kutuan bukan lagi menjadi hal aneh. Justru jika ada anak kutuan, maka ibu-ibu yang bersosialita dan duduk-duduk bergosip setiap hari setelah selesai masak akan lebih hangat dan lama. Kenapa? Karena ada aktivitas ‘metani’ alias mencari kutu dan telur-telurnya yang melekat di helaian rambut. Jaman itu kutuan bukanlah aib karena hampir semua anak ‘memelihara’ kutu di kepalanya. Beranjak besar setelah ia bisa mengurus rambutnya, biasanya ia mulai merasa malu dan mau saat ibunya berusaha membasminya.
Potong Rambut
Memangkas rambut si kecil adalah cara yang sangat efektif untuk mengatasi masalah kutu rambut. Saat rambutnya pendek, otomatis ‘wilayah jajahan’ kutu-kutu itu lebih terbatas. Sayang sekali ya, mengingat lama dan susahnya merawat rambut panjang. Tapi, harus diingat bahwa rambut selalu bisa tumbuh panjang sedangkan kutu jika terus beranak pinak maka akan merusak rambut. Pilih mana, Ayah Bunda? Apalagi gatal-gatal karena kutu bisa menyebabkan si-Kecil kurang konsentrasi, fokus dan jadi badmood.
Mengambil Kutu dan Telur-Telurnya (dengan Cara Manual dan dengan Bantuan Sisir Rapat/Serit)
Cara ini juga efektif karena telur kutu kadang tidak bisa mati dengan bantuan obat atau sisir yang rapat (serit, dalam Bahasa Jawa). Cara mengambilnya pun manual dengan dipetani (bahasa Jawa) yaitu mengambil satu-persatu kutu dan telurnya yang melekat di kulit kepala dan rambut. Ingat film zaman dulu ‘si Buta dari Goa Hantu?’ nah persis apa yang dilakukan kera yang setia menggelayut di pundak si-Buta itu. (hehe. Kidding!).
'Metani' kutu, cara tradisional yang efektif
Masalahnya, kutu yang baru menetas dan warnanya masih merah muda kecoklatan serupa dengan kulit kepala sangat susah dicari dan sering tidak rontok meski dengan sisir rapat. Solusinya, bisa dengan menggunakan kaos dalam (atau bahan kain serupa). Caranya:
  • Siapkan kaos dalam atau kain yang bahannya sama, siapkan juga shampoo yang biasa dipakai oleh buah hati Ayah-Bunda
  • Keramas kepala si-kecil dengan shampoo, tunggu beberapa menit
  • Basahi kain lalu gosok-gosokkan ke kulit kepala si kecil selama beberapa saat
  • Periksa kain, jika ada kutu biasanya akan terangkut dan menempel di kain basah
  • Jika ada, pastikan memencet kutu sampai mati agar tidak menular ke yang lain
  • Ulangi berkali-kali hingga tidak ada lagi kutu yang menempel di kain

Untuk melakukan cara ini memang sangat beresiko si-kecil masuk angin. Bisa disiasati dengan hanya membasahi kepalanya sebelum membuka seluruh pakaiannya di kamar mandi. Pastikan menggosok kepalanya dengan perlahan karena jika terlalu keras akan menyakiti. Cara ini hanya akan menghilangkan kutu yang sudah menetas ya, Ayah-Bunda. Untuk telur-telurnya harus dengan mengambilnya satu persatu.
menyisir dengan 'serit', mata sisir yang rapat akan membawa kutu
Minyak Kelapa

Minyak kelapa murni juga dipercaya mampu mengatasi masalah kutu rambut. Minyak ini juga bisa dioleskan sebelum memakai sisir rapat/serit agar rambut licin dan tidak sakit.
Minyak kelapa murni juga bisa melembabkan rambut dan mengatasi kutu
Peditox
*maaf sebut merk* tapi memang inilah obat kutu yang paling terkenal dan mujarab. Tapi, cara ini baru bisa digunakan saat sikecil sudah kooperatif karena harus dibalurkan ke seluruh kepala dan rambut lalu ditutup dengan handuk/kain.
Pengalaman saya dulu menggunakan obat ini, hanya ampuh untuk menghilangkan kutu sedangkan telur-telurnya tidak mempan. Bagi orang lain mungkin bisa berbeda hasilnya.
Kapur Ajaib/Kapur Serangga
Serius?! Mengatasi kutu di rambut dengan kapur serangga?! Hm... ini sebenarnya hasil coba-coba ibu saya. Beliau berfikir jika semut dan kecoa yang mengganggu bisa mati dengan kapur serangga, mungkin kutu rambut pun bisa.
Kami (saya dan dua orang adik yang sama-sama kutuan) harus rela menjadi ‘kelinci percobaan’ ibu. Alhamdulillah, 2 – 3 kali pemakaian kutu-kutu hilang dan telur-telurnya pun mati alias tidak bisa menetas, gabug bahasa Jawa-nya.
Cara pemakaiannya hampir sama dengan menggunakan obat peditox dan semacamnya. Coret-coretkan kapur serangga ke kulit kepala dan rambut si-Kecil lalu bungkus kepalanya dengan kain/handuk untuk mengatasi kutu yang ‘kabur’ sebelum racunnya bekerja. Lagi-lagi pemakaian kapur ini untuk anak yang sudah kooperatif ya, Ayah Bunda. Kepala juga akan terasa sedikit panas, tapi tidak akan terasa menyiksa karena justru akan mengurasi rasa gatal akibat gigitan kutu.
Bagus dipakai sebelum tidur, lalu esoknya bangun tidur keramas dengan shampoo atau sebelumnya disisir dengan serit. Sayangnya, penggunaan kapur ajaib bisa mengakibatkan kerusakan rambut seperti rambut menjadi kaku dan kusut. Tapi tenang, Ayah-Bunda, pengaruhnya tidak akan lama karena setelah kutu hilang bisa mulai lagi perawatan rambut seperti biasa.
Jeruk Nipis
Jeruk nipis bisa menghilangkan ketombe dan kutu, tapi penggunaannya harus hati-hati karena akan menimbulkan rasa yang sangat perih di kulit kepala. Jika akan memakai jerus nipis, pastikan sebelumnya tidak menggaruk kepala karena perihnya sangat menyiksa. Siapkan jeruk nipis, potong menjadi dua bagian dan buang bijinya. Peras jeruk nipis lalu balurkan ainya ke seluruh kepala sambil dipijat ringan. Jika ingin lebih praktis, cukup belah jeruk nipis, buang bijinya lalu balurkan ke kepala sambil sesekali diperas.
Air perasan jeruk nipis untuk atasi ketombe dan kutu rambut
Rasa perih di kepala akan mengurangi rasa gatal (dengan catatan sebelumnya tidak digaruk). Diamkan sekitar 15 menit setelah itu dikeramas tanpa menggunakan shampoo.
Semoga Ayah-Bunda yang buah hatinya punya masalah dengan kutu rambut segera teratasi. Kalau tidak salah sih sekarang banyak yang menjual obat herbal untuk menghilangkan kutu dan aman untuk si-kecil. Tips diatas hanya yang dulu pernah saya coba saat masih kecil dan kutuan.
Ayah-Bunda punya pengalaman yang sama? Mari kita sharing supaya lebih banyak yang tahu berbagai macam cara mengatasi kutu rambut.
Setiap hal ada obatnya dan ada jalan keluarnya, so kalau tiba-tiba anak kita kutuan tak perlu berkecil hati tinggal mencari cara bagaimana agar kutu hilang dari mahkota indahnya.
Jangan lupa juga, saat Ayah-Bunda melakukan perawatan tersebut untuk buah hati rambut orangtuanya pun perlu dicek, jangan-jangan sudah menular ke penghuni rumah yang lain. Karena jika hanya satu ‘kepala’ yang diberantas, rawan tertular lagi dari kepala lainnya.
Semoga bermanfaat, salam!